Selasa, 13 Juni 2017
INFO PENERIMAAN SANTRIWATI BARU PESANTREN PENGHAFAL AL-QURAN PUTRI “KHAIRAATUN HISAAN” CIRO-CIROE - WATANG PULU 1437/2016
INFO PENERIMAAN SANTRIWATI BARU PESANTREN PENGHAFAL AL-QURAN PUTRI “KHAIRAATUN HISAAN” CIRO-CIROE - WATANG PULU DPD. WAHDAH ISLAMIYAH SIDENRENG RAPPANG TA. 1437 H. / 2016 M.
A. Visi & Misi
“Menjadi Lembaga Pendidikan Islam yang terdepan dalam mencetak Generasi Qur’ani Huffadz yang Itqon dan Rabbani”
Mencetak muslimah penghafal al-Qur’an yang itqon dan memahami Ilmu dasar Islam
Membina santri menjadi Muslim yang shahih, yakni beraqidah yang benar, berakhlaqul karimah, cerdas, sehat dan kuat sebagai cerminan dari shalafus shaleh agar kelak menkadi pembawa dan pembela al-Qur’an dan Sunnah.
Membina Santri menjadi Muslimah yang berguna bagi diri, keluarga, masyarakat, dan ummat.
B. Program Pendidikan
Mendidik lulusan SD/MI dan SMP/MTs. Dalam jangka tiga tahun dengan program yang telah disusun, siswa diharapkan: Hafal al-Qur’an (30 Juz) dalam waktu dua tahun, lancar berbahasa arab dalam kesehariannya, memiliki hafalan yang itqon, dan memahami ilmu dasar-dasar Islam (Tarbiyah). Semua program unggulan tersebut diaplikasikan dengan sistem terfokus.
C. Syarat & Waktu Pendaftaran
Muslim, Perempuan.
Lancar Membaca al-Qur’an
Membayar Uang pendaftaran sebesar Rp 250.000,- (sudah termasuk tes seleksi selama 3 hari menginap)
Menyerahkan 3 lembar:
1. FC. Ijazah SD/SMP atau kartu UAS/UN
2. FC. Raport 3 Semester terakhir
3. FC. Akte Kelahiran
4. FC. Kartu Keluarga
5. Pas Foto terbaru 3 x 4
6. FC. KTP orangtu
Semua berkas dimasukkan ke dalam map
Gel. Pertama : 18 April s/d 04 Mei 2016
Gel. Kedua : 09 Mei s/d 19 Mei 2016
Jam Pelayanan : 08.00 s/d 16.00 Wita
PENDAFTARAN HANYA MENERIMA 20 ORANG SANTRIWATI
Jika kouta di gel. Petama terpenuhi, maka Gel. Kedua ditiadakan
Waktu seleksi:
Seleksi gelombang pertama dilaksanakan pada hari Kamis s/d. Sabtu (05-07 Mei 2016). Datang ke Ma’had sebelum Magrib pada hari Rabu, 04 Mei 2016
Seleksi gelombang kedua dilaksanakan pada hari Jumat s/d. Ahad (20-22 Mei 2016). Datang ke Ma’had sebelum Magrib pada hari Kamis, 19 Mei 2016
D. Materi tes Seleksi
Baca Tulis al-Qur’an, Tahfidzul Qur’an dan Wawancara (Calon Santri & Orangtua)
E. Biaya Pendidikan
Daftar Ulang:
- Infaq Sarana & Prasarana:
Rp. 2.500.000,- (sudah termasuk lemari pakaian, ranjang, kasur, bantal, perlengkapan makan, lemari sepatu dan alat kebersihan asrama)
- Infaq Pembangunan dipilih sesuai dengan kemampuan:
A. Rp. 2.500.000,- B. Rp. 2.000.000,- C. Rp. 1.500.000,-
- Infaq Bulanan Rp. 700.000,-:
a. Dapur Umum (Makan) Rp. 400.000,-
b. Pengelolaan Pesantren Rp. 250.000,-
c. Kesehatan Rp. 15.000,-
d. Ekstrakurikuler Santri Rp. 25.000,-
e. Maintenance Rp. 10.000,-
F. Prestasi
Sejak didirikan 22 bulan yang lalu dengan jumlah santri per tahun rata-rata 15 orang. Alhamdulillah dengan Izin dan Taufiq dari Allah:
7 (tujuh) orang santri telah menyelesaikan hafalan al-Qur’an 30 Juz. (yang lain menyusul Insya Allah)
Mendapatkan Kepercayaan dari KUA setempat untuk mewakili Kecamatan Watang Pulu dalam mengikuti MTQ tingkat Kabupaten tahun 2016 pada lomba Hifdzil Qur’an 10 Juz, 20 Juz dan 30 Juz dengan hasil:
A. Juara II (dua) Hifdzil Qur’an 30 Juz
Nurul Afifah Maddupati, Kelas 1 SMA
B. Juara II (dua) Hifdzil Qur’an 20 Juz
Zakiyyah Arifin, Kelas 1 SMP
C. Juara II (dua) Hifdzil Qur’an 10 Juz
Revi Ersandi Agus, Kelas 2 SMP
G. Fasilitas
1. Lokasi Strategis, Mudah dijangkau, Jalan Poros Kab.
2. Masjid dan Aula Serbaguna
3. Asrama Santri ber AC + Mesin Cuci per kamar
4. MCK dan air bersih yang Memadai
5. Tenaga Pengajar dalam bidangnya dengan perbandingan santri yang proporsional
6. Ruang Belajar Bahasa, Taman Bacaan, Koprasi, dll.
H. Agenda Harian Santri
02.00 - 03.00 Qiyamullail & Menghafal
03.00 - 04.45 Tidur Kembali / Istirahat
04.45 - 05.00 Bangun Tidur
05.00 - 05.30 Sholat Subuh dan Dzikir Pagi
05.30 - 07.00 KBM (Tahfidz - Sabaq & Sabaqi)
07.00 - 07.15 Sholat Sunnat Isyroq dan atau Dhuha
07.15 - 09.00 Membersihkan, Mandi dan Sarapan
09.00 - 11.00 KBM (Tahfidz - Persiapan Manzil)
11.00 - 13.30 Istirahat, Makan Siang & Sholat Dzuhur
13.30 - 15.00 KBM (Tahfidz - Manzil)
15.00
- 15.45 Istirahat & Sholat Ashar
15.45 - 17.00 KBM (Tahfidz - Muroja’ah Fardhiyah)
17.00 - 18.15 Membersihkan, Mandi dan Makan Malam
18.15 - 18.40 Sholat Maghrib
18.40 - 19.40 KBM (Tahfidz - Persiapan Sabaq/i)
19.40 - 20.00 Sholat Isya
20.00 - 21.30 Pengulangan 20 Kali Sabaq
21.30 - 02.00 Istirahat
I. Contak Person & Tempat Pendaftaran :
Hamkah, A.Md.Tek., S.Pd.I (0852 999 393 22)
WhatsApp & LINE 0852-9993-9322-
Facebook : Hamkah Husain
Email: hamkalsidrabi@yahoo.co.id
Pesantren Penghafal -al-Qur’an Putri “Khairaatun Hisaan” Jl. Poros Rappang Pare-Pare KM. 8/24
Dekat Pustu dan Kantor Desa Ciro-Ciroe, Kec. Watang Pulu, Kab. Sidenreng Rappang Pos 91661
Pesantren Penghafal Al-Qur’an Putri “Khairotun Hisaan” Kabupaten Sidenreng Rappang
Sabtu, 10 Mei 2014
TELAH HADIR di Kabupaten Sidenreng Rappang
Pesantren Penghafal Al-Qur’an Putri “Khairotun Hisaan”
Fasilitas:
-Ruang Asrama Full AC
-Ranjang Bersusun dan Lengkap
-Loker/Lemari setiap santri
-Pakaian di Loundrykan
-Masjid/Mushollah
-Klinik & Tenaga Medis
-Dapur & Ruang Makan Prasmanan
-Perpustakaan
-Kamar Mandi & WC
Keunggulan
-Target Hafalan 30 Juz Al-Qur’an plus muroja’ah max 2 tahun
-Kurikulum disusun oleh ahli dan berpengalaman
-Pembina hafidzhah 30 Juz dan berpengalaman
-Ta’lim Aqidah, hadits, Adab, Tarbiyah Islamiyah setiap pekan
-Lokasi Aman dan Mudah Dijangkau
-Biaya Pendidikan/Pembinaan Murah
Pendaftaran & Pengambilan Formulir :
1-15 Mei 2014
Tes IQ Bacaan Al Qur’an dan wawancara :
17-18 Mei 2014
Pengumuman Kelulusan :
23 Mei 2014
Pendaftaran Ulang dan Administrasi :
24-25 Mei 2014
Masuk Asrama :
1 Juni 2014
Alamat :
ISLAMIC CENTER CIRO-CIROE
Jl. Poros Rappang Pare-Pare KM.8/24
Dekat Kantor Desa & pustu Ciro-Ciroe
MENERIMA SANTRI SETINGKAT SMP, SMA (LULUSAN SD, SMP)
TERBATAS HANYA 24 ORANG
Sabtu, 02 Oktober 2010
NASIHAT PERKAWINAN UNTUK PUTRIKU
Seandainya ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa panjangkan umurku dan memberikan kesempatan kepadaku menyaksikan pernikahan putriku tercinta, kira-kira seperti inilah yang ingin aku sampaikan):
Anak-anakku..,
Hari ini akan menjadi satu di antara hari-hari yang paling bersejarah di dalam kehidupan kalian berdua. Sebentar lagi kalian akan menjadi sepasang suami-isteri, yang darinya kelak akan lahir anak-anak yang sholeh dan sholehah, dan kalian akan menjadi seorang bapak dan seorang ibu, untuk kemudian menjadi seorang kakek dan seorang nenek, ……insya الله.
Rentang perjalanan hidup manusia yang begitu panjang … sesungguhnya singkat saja. Begitu pula…liku-liku dan pernik-pernik kerumitan hidup sesungguhnya jugalah sederhana. Kita semua.. diciptakan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa tidak lain untuk beribadah kepada NYA. Maka, jika kita semua berharap kelak dapat berjumpa dengan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa …dalam keadaan IA ridlo kepada kita, hendaklah kita jadikan segala tindakan kita semata-mata di dalam rangka mencari keridlo’an-NYA dan menyelaraskan diri kepada Sunnah Nabi-NYA Yang Mulia -Shallallahu alaihi wa sallam-
(Maka barangsiapa merindukan akan perjumpaannya dengan robb-nya, hendaknya ia beramal dengan amalan yang sholeh, serta tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun di dalam peribadatahan kepada robb-nya.)
Begitu pula pernikahan ini, ijab-qabulnya, adanya wali dan dua orang saksi, termasuk hadirnya kita semua memenuhi undangan ini…adalah ibadah, yang tidak luput dari keharusan untuk sesuai dengan syari’at ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa.
Oleh karena itu…, kepada calon suami anakku…
Saya ingatkan, bahwa wanita itu dinikahi karena empat alasan, sebagaimana sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam:
“Wanita dinikahi karena empat alasan. Hartanya, keturunannya, kecantikannya,atau agamanya. Pilihlah karena agamanya, niscaya selamatlah engkau.” (HR:Muslim)
Maka ambilah nanti putriku sebagai isteri sekaligus sebagai amanah yang kelak kamu dituntut bertanggung jawab atasnya. Dengannya dan bersamanya lah kamu beribadah kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa, di dalam suka…di dalam duka. Gaulilah ia secara baik, sesuai dengan yang diharuskan menurut syari’at ALLAH. Terimalah ia sepenuh hati, kelebihan dan kekurangannya, karena ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah memerintahkan demikian:
(Dan gaulilah isteri-isterimu dengan cara yang ma’ruf. Maka seandainya kalian membenci mereka, karena boleh jadi ada sesuatu yang kalian tidak sukai dari mereka, sedangkan ALLAH menjadikan padanya banyak kebaikan.) (An-Nisaa’:19)
Dan ingatlah pula wasiat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-:
(Pergaulilah isteri-isteri dengan baik. Karena sesungguhnya mereka itu mitra hidup kalian)
Dan perlakuanmu terhadap isterimu ini menjadi cermin kadar keimananmu, sebagaimana Sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-;
(Mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya)
Dan kamu sebagai laki-laki adalah pemimpin di dalam rumah tangga.
(Lelaki itu pemimpin bagi wanita disebabkan ALLAH telah melebihkan yang satu dari yang lainnya dan disebabkan para lelaki yang memberi nafkah dengan hartanya.) (An-Nisaa’: 34)
Maka agar kamu dapat memimpin rumah tanggamu, penuhilah syarat-syaratnya, berupa kemampuan untuk menafkahi, mengajari, dan mengayomi. Raihlah kewibawaan agar isterimu patuh di bawah pimpinanmu. Jadilah suami yang bertanggungjawab, arif dan lemah lembut , sehingga isterimu merasa hangat dan tentram di sisimu. Berusahalah sekuat tenaga menjadi teladan yang baik baginya, sehingga ia bangga bersuamikan kamu. Ya, inilah sa’atnya untuk membuktikan bahwa kamu laki-laki sejati, laki-laki yang bukan hanya lahirnya.
Kepada putriku…
Saya ingatkan kepadamu akan sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- :
“Jika datang kepadamu (-wahai para orang tua anak gadis-) seorang pemuda yang kau sukai akhlaq dan agamanya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan menyebarnya kerusakan di muka bumi.” (HR: Ibnu Majah)
Dan semoga -tentunya- calon suamimu datang dan diterima karena agama dan akhlaqnya, bukan karena yang lain. Maka hendaknya kau luruskan pula niatmu. Sambutlah dia sebagai suami sekaligus pemimpinmu. Jadikanlah perkawinanmu ini sebagai wasilah ibadahmu kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Camkanlah sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-:
(Seandainya aku boleh memerintahkan manusia untuk sujud kepada sesamanya, sungguh sudah aku perintahkan sang isteri sujud kepada suaminya.)
Karenanya sekali lagi saya nasihatkan , wahai putriku…
Terima dan sambutlah suamimu ini dengan sepenuh cinta dan ketaatan.
Layani ia dengan kehangatanmu…
Manjakan ia dengan kelincahan dan kecerdasanmu…
Bantulah ia dengan kesabaran dan doamu…
Hiburlah ia dengan nasihat-nasihatmu…
Bangkitkan ia dengan keceriaan dan kelembutanmu…
Tutuplah kekurangannya dengan mulianya akhlaqmu…
Manakala telah kamu lakukan itu semua, tak ada gelar yang lebih tepat disandangkan padamu selain Al Mar’atush-Shalihah, yaitu sebaik-baik perhiasan dunia. Sebagaimana Sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-:
(Dunia tak lain adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah.)
Inilah satu kebahagiaan hakiki -bukan khayali- yang diidam-idamkan oleh setiap wanita beriman. Maka bersyukurlah, sekali lagi bersyukurlah kamu untuk semua itu, karena tidak semua wanita memperoleh kesempatan sedemikian berharga. Kesempatan menjadi seorang isteri, menjadi seorang ibu. Terlebih lagi, adanya kesempatan, diundang masuk ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki. Yang demikian ini mungkin bagimu selagi kamu melaksanakan sholat wajib lima waktu -cukup yang lima waktu-, puasa -juga cukup yang wajib- di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan -termasuk menutup aurat- , dan ta’at kepada suami. Cukup, cukup itu. Sebagaimana sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-:
(Jika seorang isteri telah sholat yang lima, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan ta’at kepada suaminya. Dikatakan kapadanya: Silahkan masuk ke dalam Surga dari pintu mana saja yang engkau mau.)
Anak-anakku…,
Melalui rangkaian ayat-ayat suci Al Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi Yang Mulia, kami semua yang hadir di sini mengantarkan kalian berdua memasuki gerbang kehidupan yang baru, bersiap-siap meninggalkan ruang tunggu, dan mengakhiri masa penantian kalian yang lama. Kami semua hanya dapat mengantar kalian hingga di dermaga. Untuk selanjutnya, bahtera rumah-tangga kalian akan mengarungi samudra kehidupan, yang tentunya tak sepi dari ombak, bahkan mungkin badai.
Karena itu, jangan tinggalkan jalan ketaqwaan. Karena hanya dengan ketaqwaan saja ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa akan mudahkan segala urusan kalian, mengeluarkan kalian dari kesulitan-kesulitan, bahkan mengaruniai kalian rizki.
(Dan barang siapa yang bertaqwa kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan berikan bagi nya jalan keluar dan mengaruniai rizki dari sisi yang tak terduga.)
(Dan barang siapa yang bertaqwa kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan mudahkan urusannya.)
Bersyukurlah kalian berdua akan ni’mat ini semua. ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah mengarunia kalian separuh dari agama ini, ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah mengarunia kalian kesempatan untuk menjalankan syari’at-NYA yang mulia, ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa juga telah mengaruniai kalian kesempatan untuk mencintai dan dicintai dengan jalan yang suci dan terhormat.
Ketahuilah, bahwa pernikahan ini menyebabkan kalian harus lebih berbagi. Orang tua kalian bertambah, saudara kalian bertambah, bahkan sahabat-sahabat kalian pun bertambah, yang kesemua itu tentu memperpanjang tali silaturahmi, memperlebar tempat berpijak, memperluas pandangan, dan memperjauh daya pendengaran. Bukan saja semakin banyak yang perlu kalian atur dan perhatikan, sebaliknya semakin banyak pula yang akan ikut mengatur dan memperhatikan kalian. Maka, barang siapa yang tidak kokoh sebagai pribadi dia akan semakin gamang menghadapi kehidupannya yang baru.
Ketahuilah, bahwa anak-anak yang sholeh dan sholehah yang kalian idam-idamkan itu sulit lahir dan tumbuh kecuali di dalam rumah tangga yang sakinah penuh cinta dan kasih sayang. Dan tentunya tak akan tercipta rumah-tangga yang sakinah, kecuali dibangun oleh suami yang sholeh dan isteri yang sholehah.
Akan tetapi, wahai anak-anakku, jangan takut menatap masa depan dan memikul tanggung jawab ini semua. Jangan bersedih dan berkecil hati jika kalian menganggap bekal yang kalian miliki sekarang ini masih sangat kurang. ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa berfirman:
(Artinya: “Dan janganlah berkecil hati juga jangan bersedih. Padahal kalian adalah orang-orang yang mulia seandainya sungguh-sungguh beriman.”) (Ali Imran: 139)
Ya, selama masih ada iman di dalam dada segalanya akan menjadi mudah bagi kalian. Bukankah dengan pernikahan ini kalian bisa saling tolong-menolong di dalam kebajikan dan taqwa. Bukankah dengan pernikahan ini kalian bisa saling menutupi kelemahan dan kekurangan masing-masing. Bersungguh-sungguhlah untuk itu, untuk meraih segala kebaikan yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sediakan melalui pernikahan ini. Jangan lupa untuk senantiasa memohon pertolongan kepada ALLAH. kemudian jangan merasa tak mampu atau pesimis. Jangan, jangan kalian awali kehidupan rumah tangga ini dengan perasaan lemah !
(Bersungguh-sungguhlah kepada yang bermanfa’at bagimu, mohonlah pertolongan kepada ALLAH, dan jangan merasa lemah!) (HR: Ibnu Majah)
Terakhir, ingatlah bahwa nikah merupakan Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, sebagaimana sabdanya:
(Nikah itu merupakan bagian dari Sunnahku. Maka barang siapa berpaling dari Sunnahku, ia bukanlah bagian dari umatku.)
Maka janganlah justru melalui pernikahan ini atau setelah aqad ini kalian justru meninggalkan Sunnah untuk kemudian bergelimang di dalam berbagai bid’ah dan kema’shiyatan.
Kepada besanku…
Terimalah masing-masing mereka sebagai tambahan anak bagi kita. Ma’lumilah kekurangan-kekurangannya, karena mereka memang masih muda. Bimbinglah mereka, karena inilah saatnya mereka memasuki kehidupan yang sesungguhnya.
Wajar, sebagaimana seorang anak bayi yang sedang belajar berdiri dan berjalan, tentu pernah mengalami jatuh untuk kemudian bangkit dan mencoba kembali. Maka bantulah mereka sampai benar-benar kokoh untuk berdiri dan berjalan sendiri.
Bantu dan bimbing mereka, tetapi jangan mengatur. Biarkan.., Karena sepenuhnya diri mereka dan keturunan yang kelak lahir dari perkawinan mereka adalah tanggung-jawab mereka sendiri di hadapan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Hargailah harapan dan cita-cita yang mereka bangun di atas ilmu yang telah sampai pada mereka.
Keterlibatan kita yang terlalu jauh dan tidak pada tempatnya di dalam persoalan rumah tangga mereka bukannya akan membantu. Bahkan sebaliknya, membuat mereka tak akan pernah kokoh. Sementara mereka dituntut untuk menjadi sebenar-benar bapak dan sebenar-benar ibu di hadapan…dan bagi anak-anak mereka sendiri.
Ketahuilah, bahwa bukan mereka saja yang sedang memasuki kehidupannya yang baru, sebagai suami isteri. Kita pun, para orang tua, sedang memasuki kehidupan kita yang baru, yakni kehidupan calon seorang kakek atau nenek – insya الله. Maka hendaknya umur dan pengalaman ini membuat kita,…para orang tua, menjadi lebih arif dan sabar, bukannya semakin pandir dan dikuasai perasaan. Pengalaman hidup kita memang bisa jadi pelajaran, tetapi belum tentu harus jadi acuan bagi mereka.
Jika kelak -dari pernikahan ini- lahir cucu-cucu bagi kita. Sayangilah mereka tanpa harus melecehkan dan menjatuhkan wibawa orang tuanya. Berapa banyak cerita di mana kakek atau nenek merebut superioritas ayah dan ibu. Sehingga anak-anak lebih ta’at kepada kakek atau neneknya ketimbang kepada kedua orang tuanya. Sungguh, akankah kelak cucu-cucu kita menjadi anak-anak yang ta’at kepada orang tuanya atau tidak, sedikit banyak dipengaruhi oleh cara kita memanjakan mereka.
Kepada semua, baik yang pernah mengalami peristiwa semacam ini, maupun yang sedang menanti-nanti gilirannya, marilah kita do’akan mereka dengan do’a yang telah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-:
بسم الله الرحمن الرخيم
إن الحمد لله , نحمده ونستعينه , ونستغفره , ونعوذ بالله من شرور أنفسنا , ومن سيئات أعمالنا , من يهده الله فلا مضل له , ومن يضلل فلا هادي له , وأشهد أن لاإله إلا الله وحده لاشريك له , وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم .
{ يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون }
{ يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تسألون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا }
{ يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا , يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم , ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما }
{ يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تسألون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا }
{ يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا , يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم , ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما }
Anak-anakku..,
Hari ini akan menjadi satu di antara hari-hari yang paling bersejarah di dalam kehidupan kalian berdua. Sebentar lagi kalian akan menjadi sepasang suami-isteri, yang darinya kelak akan lahir anak-anak yang sholeh dan sholehah, dan kalian akan menjadi seorang bapak dan seorang ibu, untuk kemudian menjadi seorang kakek dan seorang nenek, ……insya الله.
Rentang perjalanan hidup manusia yang begitu panjang … sesungguhnya singkat saja. Begitu pula…liku-liku dan pernik-pernik kerumitan hidup sesungguhnya jugalah sederhana. Kita semua.. diciptakan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa tidak lain untuk beribadah kepada NYA. Maka, jika kita semua berharap kelak dapat berjumpa dengan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa …dalam keadaan IA ridlo kepada kita, hendaklah kita jadikan segala tindakan kita semata-mata di dalam rangka mencari keridlo’an-NYA dan menyelaraskan diri kepada Sunnah Nabi-NYA Yang Mulia -Shallallahu alaihi wa sallam-
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
(Maka barangsiapa merindukan akan perjumpaannya dengan robb-nya, hendaknya ia beramal dengan amalan yang sholeh, serta tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun di dalam peribadatahan kepada robb-nya.)
Begitu pula pernikahan ini, ijab-qabulnya, adanya wali dan dua orang saksi, termasuk hadirnya kita semua memenuhi undangan ini…adalah ibadah, yang tidak luput dari keharusan untuk sesuai dengan syari’at ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa.
Oleh karena itu…, kepada calon suami anakku…
Saya ingatkan, bahwa wanita itu dinikahi karena empat alasan, sebagaimana sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam:
عن أبي هريره رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:
تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك
“Wanita dinikahi karena empat alasan. Hartanya, keturunannya, kecantikannya,atau agamanya. Pilihlah karena agamanya, niscaya selamatlah engkau.” (HR:Muslim)
Maka ambilah nanti putriku sebagai isteri sekaligus sebagai amanah yang kelak kamu dituntut bertanggung jawab atasnya. Dengannya dan bersamanya lah kamu beribadah kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa, di dalam suka…di dalam duka. Gaulilah ia secara baik, sesuai dengan yang diharuskan menurut syari’at ALLAH. Terimalah ia sepenuh hati, kelebihan dan kekurangannya, karena ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah memerintahkan demikian:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
(Dan gaulilah isteri-isterimu dengan cara yang ma’ruf. Maka seandainya kalian membenci mereka, karena boleh jadi ada sesuatu yang kalian tidak sukai dari mereka, sedangkan ALLAH menjadikan padanya banyak kebaikan.) (An-Nisaa’:19)
Dan ingatlah pula wasiat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-:
إستوصوا بالنساء خيرا فإنهن عوان عندكم
(Pergaulilah isteri-isteri dengan baik. Karena sesungguhnya mereka itu mitra hidup kalian)
Dan perlakuanmu terhadap isterimu ini menjadi cermin kadar keimananmu, sebagaimana Sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-;
أكمل المؤمن إيمانا أحسنهم خلقا و خياركم خياركم لنساءهم (الترمذي عن ابي هريرة)
(Mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya)
Dan kamu sebagai laki-laki adalah pemimpin di dalam rumah tangga.
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
(Lelaki itu pemimpin bagi wanita disebabkan ALLAH telah melebihkan yang satu dari yang lainnya dan disebabkan para lelaki yang memberi nafkah dengan hartanya.) (An-Nisaa’: 34)
Maka agar kamu dapat memimpin rumah tanggamu, penuhilah syarat-syaratnya, berupa kemampuan untuk menafkahi, mengajari, dan mengayomi. Raihlah kewibawaan agar isterimu patuh di bawah pimpinanmu. Jadilah suami yang bertanggungjawab, arif dan lemah lembut , sehingga isterimu merasa hangat dan tentram di sisimu. Berusahalah sekuat tenaga menjadi teladan yang baik baginya, sehingga ia bangga bersuamikan kamu. Ya, inilah sa’atnya untuk membuktikan bahwa kamu laki-laki sejati, laki-laki yang bukan hanya lahirnya.
Kepada putriku…
Saya ingatkan kepadamu akan sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- :
عن أبي هريرة؛ قال:- قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
إذا أتاكم من ترضون خلقه ودينه فزوجوه. إلا تفعلوا تكن فتنة في الأرض وفساد عريض
“Jika datang kepadamu (-wahai para orang tua anak gadis-) seorang pemuda yang kau sukai akhlaq dan agamanya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan menyebarnya kerusakan di muka bumi.” (HR: Ibnu Majah)
Dan semoga -tentunya- calon suamimu datang dan diterima karena agama dan akhlaqnya, bukan karena yang lain. Maka hendaknya kau luruskan pula niatmu. Sambutlah dia sebagai suami sekaligus pemimpinmu. Jadikanlah perkawinanmu ini sebagai wasilah ibadahmu kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Camkanlah sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-:
لو كنت أمرا أحد ان يسجد لأحد لأمرت المرءة ان تسجد لزوجها (الترم1ي عن ابي هريرة)
(Seandainya aku boleh memerintahkan manusia untuk sujud kepada sesamanya, sungguh sudah aku perintahkan sang isteri sujud kepada suaminya.)
Karenanya sekali lagi saya nasihatkan , wahai putriku…
Terima dan sambutlah suamimu ini dengan sepenuh cinta dan ketaatan.
Layani ia dengan kehangatanmu…
Manjakan ia dengan kelincahan dan kecerdasanmu…
Bantulah ia dengan kesabaran dan doamu…
Hiburlah ia dengan nasihat-nasihatmu…
Bangkitkan ia dengan keceriaan dan kelembutanmu…
Tutuplah kekurangannya dengan mulianya akhlaqmu…
Manakala telah kamu lakukan itu semua, tak ada gelar yang lebih tepat disandangkan padamu selain Al Mar’atush-Shalihah, yaitu sebaik-baik perhiasan dunia. Sebagaimana Sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-:
الدنيا متاع وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة ( مسلم)
(Dunia tak lain adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah.)
Inilah satu kebahagiaan hakiki -bukan khayali- yang diidam-idamkan oleh setiap wanita beriman. Maka bersyukurlah, sekali lagi bersyukurlah kamu untuk semua itu, karena tidak semua wanita memperoleh kesempatan sedemikian berharga. Kesempatan menjadi seorang isteri, menjadi seorang ibu. Terlebih lagi, adanya kesempatan, diundang masuk ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki. Yang demikian ini mungkin bagimu selagi kamu melaksanakan sholat wajib lima waktu -cukup yang lima waktu-, puasa -juga cukup yang wajib- di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan -termasuk menutup aurat- , dan ta’at kepada suami. Cukup, cukup itu. Sebagaimana sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-:
إذا صلت المرأة خمسها وصامت شهرها وحفظت فرجها وأطاعت زوجها
قيل لها: ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت (أحمد عن عبدالرحمن بن عوف)
(Jika seorang isteri telah sholat yang lima, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan ta’at kepada suaminya. Dikatakan kapadanya: Silahkan masuk ke dalam Surga dari pintu mana saja yang engkau mau.)
Anak-anakku…,
Melalui rangkaian ayat-ayat suci Al Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi Yang Mulia, kami semua yang hadir di sini mengantarkan kalian berdua memasuki gerbang kehidupan yang baru, bersiap-siap meninggalkan ruang tunggu, dan mengakhiri masa penantian kalian yang lama. Kami semua hanya dapat mengantar kalian hingga di dermaga. Untuk selanjutnya, bahtera rumah-tangga kalian akan mengarungi samudra kehidupan, yang tentunya tak sepi dari ombak, bahkan mungkin badai.
Karena itu, jangan tinggalkan jalan ketaqwaan. Karena hanya dengan ketaqwaan saja ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa akan mudahkan segala urusan kalian, mengeluarkan kalian dari kesulitan-kesulitan, bahkan mengaruniai kalian rizki.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
(Dan barang siapa yang bertaqwa kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan berikan bagi nya jalan keluar dan mengaruniai rizki dari sisi yang tak terduga.)
(Dan barang siapa yang bertaqwa kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan mudahkan urusannya.)
Bersyukurlah kalian berdua akan ni’mat ini semua. ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah mengarunia kalian separuh dari agama ini, ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah mengarunia kalian kesempatan untuk menjalankan syari’at-NYA yang mulia, ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa juga telah mengaruniai kalian kesempatan untuk mencintai dan dicintai dengan jalan yang suci dan terhormat.
Ketahuilah, bahwa pernikahan ini menyebabkan kalian harus lebih berbagi. Orang tua kalian bertambah, saudara kalian bertambah, bahkan sahabat-sahabat kalian pun bertambah, yang kesemua itu tentu memperpanjang tali silaturahmi, memperlebar tempat berpijak, memperluas pandangan, dan memperjauh daya pendengaran. Bukan saja semakin banyak yang perlu kalian atur dan perhatikan, sebaliknya semakin banyak pula yang akan ikut mengatur dan memperhatikan kalian. Maka, barang siapa yang tidak kokoh sebagai pribadi dia akan semakin gamang menghadapi kehidupannya yang baru.
Ketahuilah, bahwa anak-anak yang sholeh dan sholehah yang kalian idam-idamkan itu sulit lahir dan tumbuh kecuali di dalam rumah tangga yang sakinah penuh cinta dan kasih sayang. Dan tentunya tak akan tercipta rumah-tangga yang sakinah, kecuali dibangun oleh suami yang sholeh dan isteri yang sholehah.
Akan tetapi, wahai anak-anakku, jangan takut menatap masa depan dan memikul tanggung jawab ini semua. Jangan bersedih dan berkecil hati jika kalian menganggap bekal yang kalian miliki sekarang ini masih sangat kurang. ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa berfirman:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
(Artinya: “Dan janganlah berkecil hati juga jangan bersedih. Padahal kalian adalah orang-orang yang mulia seandainya sungguh-sungguh beriman.”) (Ali Imran: 139)
Ya, selama masih ada iman di dalam dada segalanya akan menjadi mudah bagi kalian. Bukankah dengan pernikahan ini kalian bisa saling tolong-menolong di dalam kebajikan dan taqwa. Bukankah dengan pernikahan ini kalian bisa saling menutupi kelemahan dan kekurangan masing-masing. Bersungguh-sungguhlah untuk itu, untuk meraih segala kebaikan yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sediakan melalui pernikahan ini. Jangan lupa untuk senantiasa memohon pertolongan kepada ALLAH. kemudian jangan merasa tak mampu atau pesimis. Jangan, jangan kalian awali kehidupan rumah tangga ini dengan perasaan lemah !
احرص على ما ينفعك. واستعن بالله ولا تعجز
(Bersungguh-sungguhlah kepada yang bermanfa’at bagimu, mohonlah pertolongan kepada ALLAH, dan jangan merasa lemah!) (HR: Ibnu Majah)
Terakhir, ingatlah bahwa nikah merupakan Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, sebagaimana sabdanya:
النكاح من سنتي فمن رغب عن سنتي فليس مني
(Nikah itu merupakan bagian dari Sunnahku. Maka barang siapa berpaling dari Sunnahku, ia bukanlah bagian dari umatku.)
Maka janganlah justru melalui pernikahan ini atau setelah aqad ini kalian justru meninggalkan Sunnah untuk kemudian bergelimang di dalam berbagai bid’ah dan kema’shiyatan.
Kepada besanku…
Terimalah masing-masing mereka sebagai tambahan anak bagi kita. Ma’lumilah kekurangan-kekurangannya, karena mereka memang masih muda. Bimbinglah mereka, karena inilah saatnya mereka memasuki kehidupan yang sesungguhnya.
Wajar, sebagaimana seorang anak bayi yang sedang belajar berdiri dan berjalan, tentu pernah mengalami jatuh untuk kemudian bangkit dan mencoba kembali. Maka bantulah mereka sampai benar-benar kokoh untuk berdiri dan berjalan sendiri.
Bantu dan bimbing mereka, tetapi jangan mengatur. Biarkan.., Karena sepenuhnya diri mereka dan keturunan yang kelak lahir dari perkawinan mereka adalah tanggung-jawab mereka sendiri di hadapan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Hargailah harapan dan cita-cita yang mereka bangun di atas ilmu yang telah sampai pada mereka.
Keterlibatan kita yang terlalu jauh dan tidak pada tempatnya di dalam persoalan rumah tangga mereka bukannya akan membantu. Bahkan sebaliknya, membuat mereka tak akan pernah kokoh. Sementara mereka dituntut untuk menjadi sebenar-benar bapak dan sebenar-benar ibu di hadapan…dan bagi anak-anak mereka sendiri.
Ketahuilah, bahwa bukan mereka saja yang sedang memasuki kehidupannya yang baru, sebagai suami isteri. Kita pun, para orang tua, sedang memasuki kehidupan kita yang baru, yakni kehidupan calon seorang kakek atau nenek – insya الله. Maka hendaknya umur dan pengalaman ini membuat kita,…para orang tua, menjadi lebih arif dan sabar, bukannya semakin pandir dan dikuasai perasaan. Pengalaman hidup kita memang bisa jadi pelajaran, tetapi belum tentu harus jadi acuan bagi mereka.
Jika kelak -dari pernikahan ini- lahir cucu-cucu bagi kita. Sayangilah mereka tanpa harus melecehkan dan menjatuhkan wibawa orang tuanya. Berapa banyak cerita di mana kakek atau nenek merebut superioritas ayah dan ibu. Sehingga anak-anak lebih ta’at kepada kakek atau neneknya ketimbang kepada kedua orang tuanya. Sungguh, akankah kelak cucu-cucu kita menjadi anak-anak yang ta’at kepada orang tuanya atau tidak, sedikit banyak dipengaruhi oleh cara kita memanjakan mereka.
Kepada semua, baik yang pernah mengalami peristiwa semacam ini, maupun yang sedang menanti-nanti gilirannya, marilah kita do’akan mereka dengan do’a yang telah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-:
بارك الله لك وبارك عليك وجمع بينكما في خير
فأعتبروا يا أولي الأبصار
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لاإله إلاأنت أستغفرك وأتوب إليك
فأعتبروا يا أولي الأبصار
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لاإله إلاأنت أستغفرك وأتوب إليك
KENDLA-KENDALA MEMBACA DAN MENGHAFAL AL QURAN & KIAT-KIAT MENGATASINYA
Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda: ''Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari al-Quran dan mengamalkannya'' (HR.Bukhari)
Duhai..mungkin terbersit dalam lubuk hati kita keinginan yang kuat tuk secara kontinyu membacanya, mentadabburinya dan semangat tinggi tuk mengahafalkannya..
Namun sejauh ini sudah konsistenkah kita dalam mengakrabinya...sudah berapa ayat,su...rat ataukah juz yang telah mampu kita menghafalnya....
Duhai mengapa jiwa ini merasa begitu tak berdaya..seakan akan surat-surat itu demikian samar, kata-kata yang ada demikian sulit...
Waktu terus merongrong kita..dan kesibukan terus mengepung kita...
Namun sesungguhnya kita telah lupa bahwa ketidak berdayaan itu bukanlah karna sulitnya Al-Quran sebab Alloh ta'ala telah berfirman dalam kitabNya:
'' Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran'' (al-Qomar 17)
Lalu apakah yang membuat kita begitu tak berdaya? ..
Apa yang telah menghadang jalan kita?..
Apa yang menghalangi kita tuk menghafalnya?..
Dan apa yang mencegah kita tuk membacanya?..
KENDALA-KENDALA MEMBACA & MENGHAFAL KITABULLAH
Yang paling menonjol beberapa diantaranya adalah:
1. Perbuatan maksiat dan dosa
Demi Alloh, dosa-dosa yang kita lakukanlah yang meyebabkan ketidakberdayaa kita untuk menghafal. Ia lah yang menyaebabkan akal kita lupa, menarik terucapnya kata-kata dari mulut kita,menjadikan ayat-ayat hilang dan bercampur aduk bagi kita..
2. Mengakhirkan Sholat
3. Memutus tali silaturrahim
Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda: '' barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung rahimnya'' (muttafaq 'alaih)
4. Dusta
Padahal Alloh berfirman: '' sesungguhnya Alloh tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta'' (QS. Ghafir: 28)
Rasululloh shollallohu 'alaihi bersabda: ''Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada perbuatan baik, dan perbuatan baik itu menunjukkan kepada surga...'' (muttafaqun 'alaih)
5. Mengganggu (menyakiti) orang lain
Hal ini berdasarkan firman Alloh ta'ala: '' dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu'min dan mu'minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata'' (al ahzab 58)
6. Ghibah
7. Menimbulkan permusuhan di antara sesama manusia dengan cara mengadu domba
Rasululloh bersabda: ''Tidak masuk surga tukang adu domba..'' (HR.BUKHARI Muslim)
8. Iri hati/dengki
9. berakan akan (ucapan akan begini dan begitu,dst)
10. Bergaul dengan orang yang memiliki keinginan yang rendah
11. Mudah bosan
12. Terburu-buru ingin lekas selesai
13. Meningkatkan kuantitas hafalan atau bacaan
14. Tidak melakukan secara kontinyu dan tidak mengulang -ulanginya lagi
15. Lemah kemauan
16. Tidak mau mendaftarkan diri ke training2 atau halaqah tahfizhul quran
17. Tidak mau menggunakan sarana penunjang ex:kaset
18. Telah diperdayai syaithan..
.....astaghfirullohal adzim.....
HAL-HAL YANG DAPAT MEMBANTU DALAM MEMBACA & MENGHAFAL KITABULLOH
1. Bertawakal kepada Alloh
2. Menjadikan niat ikhlas dan memperbaiki tujuan hanya semata karna Alloh ta'ala
3. Membacanya secara tartil => mengucapkan dan membacanya secara benar
4. Mentadabburi,merenungi,memperhatikan dan memikirkan makna ayat-ayat yang mulia
5. Tidak berhenti sekalipun melewati masa-masa mengendurnya semangat
6. Bersabar dan tidak buru-buru untuk menyelesaikan bacaan dan membereskan hafalan
♥ TAMBAHAN ♥
* membatasi jumlah ayat yang akan dihafalkan setiap harinya dan tidak mewati jumlah tersebut kecuali setelah benar-benar hafal
* selama masa menghafal tetap menggunakan satu mushaf saja
* tidak melewati satu surat hingga benar2 dapat menyambung antara pangkal dan ujungnya
* selalu melakukan tasmi' (memperdengarkan bacaan kepada diri sendiri atau orang lain) terhadap hafalan
* memfokuskan pada surat atau ayat yang memiliki kemiripan
* antusias untuk membaca beberapa kali sehingga dapat mengucapkannya secara benar dulu sebelum menghafal
(disarikan dari buku ''KIAT MENGATASI KENDALA MEMBACA DAN MENGHAFAL AL QURAN'' ~HAYA AR RASYID~, pustaka Al sofwa 2004)
***** Ya Alloh...mudahkanlah kami dan bimbingkanlah kami untuk mengamalkannya...*****
Duhai..mungkin terbersit dalam lubuk hati kita keinginan yang kuat tuk secara kontinyu membacanya, mentadabburinya dan semangat tinggi tuk mengahafalkannya..
Namun sejauh ini sudah konsistenkah kita dalam mengakrabinya...sudah berapa ayat,su...rat ataukah juz yang telah mampu kita menghafalnya....
Duhai mengapa jiwa ini merasa begitu tak berdaya..seakan akan surat-surat itu demikian samar, kata-kata yang ada demikian sulit...
Waktu terus merongrong kita..dan kesibukan terus mengepung kita...
Namun sesungguhnya kita telah lupa bahwa ketidak berdayaan itu bukanlah karna sulitnya Al-Quran sebab Alloh ta'ala telah berfirman dalam kitabNya:
'' Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran'' (al-Qomar 17)
Lalu apakah yang membuat kita begitu tak berdaya? ..
Apa yang telah menghadang jalan kita?..
Apa yang menghalangi kita tuk menghafalnya?..
Dan apa yang mencegah kita tuk membacanya?..
KENDALA-KENDALA MEMBACA & MENGHAFAL KITABULLAH
Yang paling menonjol beberapa diantaranya adalah:
1. Perbuatan maksiat dan dosa
Demi Alloh, dosa-dosa yang kita lakukanlah yang meyebabkan ketidakberdayaa kita untuk menghafal. Ia lah yang menyaebabkan akal kita lupa, menarik terucapnya kata-kata dari mulut kita,menjadikan ayat-ayat hilang dan bercampur aduk bagi kita..
2. Mengakhirkan Sholat
3. Memutus tali silaturrahim
Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda: '' barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung rahimnya'' (muttafaq 'alaih)
4. Dusta
Padahal Alloh berfirman: '' sesungguhnya Alloh tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta'' (QS. Ghafir: 28)
Rasululloh shollallohu 'alaihi bersabda: ''Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada perbuatan baik, dan perbuatan baik itu menunjukkan kepada surga...'' (muttafaqun 'alaih)
5. Mengganggu (menyakiti) orang lain
Hal ini berdasarkan firman Alloh ta'ala: '' dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu'min dan mu'minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata'' (al ahzab 58)
6. Ghibah
7. Menimbulkan permusuhan di antara sesama manusia dengan cara mengadu domba
Rasululloh bersabda: ''Tidak masuk surga tukang adu domba..'' (HR.BUKHARI Muslim)
8. Iri hati/dengki
9. berakan akan (ucapan akan begini dan begitu,dst)
10. Bergaul dengan orang yang memiliki keinginan yang rendah
11. Mudah bosan
12. Terburu-buru ingin lekas selesai
13. Meningkatkan kuantitas hafalan atau bacaan
14. Tidak melakukan secara kontinyu dan tidak mengulang -ulanginya lagi
15. Lemah kemauan
16. Tidak mau mendaftarkan diri ke training2 atau halaqah tahfizhul quran
17. Tidak mau menggunakan sarana penunjang ex:kaset
18. Telah diperdayai syaithan..
.....astaghfirullohal adzim.....
HAL-HAL YANG DAPAT MEMBANTU DALAM MEMBACA & MENGHAFAL KITABULLOH
1. Bertawakal kepada Alloh
2. Menjadikan niat ikhlas dan memperbaiki tujuan hanya semata karna Alloh ta'ala
3. Membacanya secara tartil => mengucapkan dan membacanya secara benar
4. Mentadabburi,merenungi,memperhatikan dan memikirkan makna ayat-ayat yang mulia
5. Tidak berhenti sekalipun melewati masa-masa mengendurnya semangat
6. Bersabar dan tidak buru-buru untuk menyelesaikan bacaan dan membereskan hafalan
♥ TAMBAHAN ♥
* membatasi jumlah ayat yang akan dihafalkan setiap harinya dan tidak mewati jumlah tersebut kecuali setelah benar-benar hafal
* selama masa menghafal tetap menggunakan satu mushaf saja
* tidak melewati satu surat hingga benar2 dapat menyambung antara pangkal dan ujungnya
* selalu melakukan tasmi' (memperdengarkan bacaan kepada diri sendiri atau orang lain) terhadap hafalan
* memfokuskan pada surat atau ayat yang memiliki kemiripan
* antusias untuk membaca beberapa kali sehingga dapat mengucapkannya secara benar dulu sebelum menghafal
(disarikan dari buku ''KIAT MENGATASI KENDALA MEMBACA DAN MENGHAFAL AL QURAN'' ~HAYA AR RASYID~, pustaka Al sofwa 2004)
***** Ya Alloh...mudahkanlah kami dan bimbingkanlah kami untuk mengamalkannya...*****
Senin, 16 Agustus 2010
BURUNG GAGAK
Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon. Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya, "Nak, apakah benda tersebut?"
"Burung gagak", jawab si anak. Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras, "Itu burung gagak ayah!" Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama.Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, "BURUNG GAGAK!!" Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang! ! ogah-ogahan menjawab pertanyaan si ayah, "Gagak ayah.......".
Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan menjadi marah. "Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan sayapun sudah memberikan jawabannya. Apakah yang ayah ingin saya katakan??? Itu burung gagak, burung gagak ayah.....", kata si anak dengan nada yang begitu marah.
Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang terheran-heran. Sebentar kemudian si ayah keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut sebuah diari lama. "Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam diari itu", pinta si ayah.
Si anak taat dan membaca bagian yang berikut ......"Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima tahun.Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, "Ayah, apakah itu?" Dan aku menjawab, "Burung gagak". Walau bagaimanapun, anak ku terus bertanya pertanyaan yang sama dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayang aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga."Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah dengan perlahan bersuara, "Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran dan marah."
Pesan moral cerita ini ialah jagalah hati kedua ibu bapakmu. Jangan sakiti hati mereka, karena merekalah yang telah merawat kamu di waktu kecil, dengan belaian kasih sayangnya, yang mengorbankan semua yang dimilikinya. Mereka merawatmu dengan penuh kesabaran dan keihklasan. Sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil.
"Burung gagak", jawab si anak. Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras, "Itu burung gagak ayah!" Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama.Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, "BURUNG GAGAK!!" Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang! ! ogah-ogahan menjawab pertanyaan si ayah, "Gagak ayah.......".
Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan menjadi marah. "Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan sayapun sudah memberikan jawabannya. Apakah yang ayah ingin saya katakan??? Itu burung gagak, burung gagak ayah.....", kata si anak dengan nada yang begitu marah.
Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang terheran-heran. Sebentar kemudian si ayah keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut sebuah diari lama. "Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam diari itu", pinta si ayah.
Si anak taat dan membaca bagian yang berikut ......"Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima tahun.Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, "Ayah, apakah itu?" Dan aku menjawab, "Burung gagak". Walau bagaimanapun, anak ku terus bertanya pertanyaan yang sama dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayang aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga."Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah dengan perlahan bersuara, "Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran dan marah."
Pesan moral cerita ini ialah jagalah hati kedua ibu bapakmu. Jangan sakiti hati mereka, karena merekalah yang telah merawat kamu di waktu kecil, dengan belaian kasih sayangnya, yang mengorbankan semua yang dimilikinya. Mereka merawatmu dengan penuh kesabaran dan keihklasan. Sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil.
KITA PUN AKAN MENJADI TUA.....
Hidup bagaikan garis lurus yang tak pernah kembali ke masa yang lalu, hidup bukan bulatan bola Yang tiada ujung dan tiada pangkal. Kehidupan ini tidak akan berlangsung abadi, hingga suatu saat kita akan menaiki tangga usia, semakin lama usia kita bertambah, semakin berkuranglah sisa umur kita dan andai Tuhan belum memanggil kita di usia muda maka kitapun akan menjadi tua.
Melihat garis-garis di wajah sosok yang kita cintai ibu dan ayah kita, ketika kulitnya mulai keriput, rambut hitamnya mulai memutih dan kesehatannya kian menyusut, kita diingatkan oleh-Nya bahwa kitapun sama, suatu saat nanti akan menjadi tua, renta dan butuh begitu banyak pertolongan, kasih sayang serta perhatian dari anak-anak kita.
Dan sekaranglah saatnya bagi kita untuk memainkan peran sebagai seorang anak, memelihara dan menyayangi ayah dan ibu kita. Dahulu sembilan bulan kita dalam rahim ibu, kita menyusahkannya, duduk ia tak enak, berbaring tak nyaman. Tapi ibu sabar menanti hari-hari kelahiran kita. Tiba kita di dunia, ibu tersenyum bahagia mendapatkan kita sebagai anugerah dari Tuhan-Nya, disusuinya, dimanjakannya dan dibesarkannya kita dengan penuh kasih sayang. Diajarkannya kita berbagai ilmu dan sebuah kenikmatan yang luar biasa bagi kita diajarkan untuk mengenal Allah sebagai Tuhan kita. Dengan sabar ibu mengajak kita pergi ke pengajian dan ayah selalu mengajak kita shalat berjamaah.
Menginjak remaja, kita semakin menyusah-kannya, biaya sekolah yang kian besar serta kenakalan-kenakalan yang sering kita lakukan tak jarang membuat hati ibu terluka. Sikap kita yang kasar, egois dan selalu merasa benar terkadang membuatnya menangis, tapi ibu tetap sabar. Dibimbingnya kita untuk memperbaiki sikap dan tingkah laku kita, ibu selalu menanamkan cinta kepada Allah Rabb Tuhan yang maha kasih dan sayang.
Berbahagialah bagi yang masih mempunyai ibu juga ayah, karena masih mempunyai kesempatan untuk memelihara dan menyayangi mereka. Dan saat kita menginjak dewasa, ketika ayah yang dulu kekar sekarang sering terbaring sakit, dan ketika ibu yang dulu selalu melayani kita makan sekarang sering terbaring lemah, inilah saat-saat yang baik bagi kita untuk memuliakan mereka, melayani, memelihara dan memberikan perhatian kepada mereka. Inilah kesempatan kita untuk menjadi anak yang shaleh buat mereka bahagia di ujung usianya, dan buat mereka bangga dengan kita. Ingatkah, dahulu ketika kebetulan kita terbangun dari tidur, terlihat ibu sedang Tahajjud tak henti-hentinya berdo'a untuk kita, agar menjadi anak yang shaleh dan tercapai semua cita.
Jenguklah ibu dan ayah kita selagi bisa, sebelum semuanya berakhir menjadi kenangan, bawakan oleh-oleh yang disukainya. Sebab jika mereka telah tiada maka tak akan ada lagi yang menunggu kita pulang, tak ada lagi menyiapkan kita sarapan, yang ada hanyalah rumah yang akan menjadi kenangan. "Muliakanlah Orang tua kita karena kitapun akan menjadi tua".
Wallahu ‘Alam Bisshowab
Melihat garis-garis di wajah sosok yang kita cintai ibu dan ayah kita, ketika kulitnya mulai keriput, rambut hitamnya mulai memutih dan kesehatannya kian menyusut, kita diingatkan oleh-Nya bahwa kitapun sama, suatu saat nanti akan menjadi tua, renta dan butuh begitu banyak pertolongan, kasih sayang serta perhatian dari anak-anak kita.
Dan sekaranglah saatnya bagi kita untuk memainkan peran sebagai seorang anak, memelihara dan menyayangi ayah dan ibu kita. Dahulu sembilan bulan kita dalam rahim ibu, kita menyusahkannya, duduk ia tak enak, berbaring tak nyaman. Tapi ibu sabar menanti hari-hari kelahiran kita. Tiba kita di dunia, ibu tersenyum bahagia mendapatkan kita sebagai anugerah dari Tuhan-Nya, disusuinya, dimanjakannya dan dibesarkannya kita dengan penuh kasih sayang. Diajarkannya kita berbagai ilmu dan sebuah kenikmatan yang luar biasa bagi kita diajarkan untuk mengenal Allah sebagai Tuhan kita. Dengan sabar ibu mengajak kita pergi ke pengajian dan ayah selalu mengajak kita shalat berjamaah.
Menginjak remaja, kita semakin menyusah-kannya, biaya sekolah yang kian besar serta kenakalan-kenakalan yang sering kita lakukan tak jarang membuat hati ibu terluka. Sikap kita yang kasar, egois dan selalu merasa benar terkadang membuatnya menangis, tapi ibu tetap sabar. Dibimbingnya kita untuk memperbaiki sikap dan tingkah laku kita, ibu selalu menanamkan cinta kepada Allah Rabb Tuhan yang maha kasih dan sayang.
Berbahagialah bagi yang masih mempunyai ibu juga ayah, karena masih mempunyai kesempatan untuk memelihara dan menyayangi mereka. Dan saat kita menginjak dewasa, ketika ayah yang dulu kekar sekarang sering terbaring sakit, dan ketika ibu yang dulu selalu melayani kita makan sekarang sering terbaring lemah, inilah saat-saat yang baik bagi kita untuk memuliakan mereka, melayani, memelihara dan memberikan perhatian kepada mereka. Inilah kesempatan kita untuk menjadi anak yang shaleh buat mereka bahagia di ujung usianya, dan buat mereka bangga dengan kita. Ingatkah, dahulu ketika kebetulan kita terbangun dari tidur, terlihat ibu sedang Tahajjud tak henti-hentinya berdo'a untuk kita, agar menjadi anak yang shaleh dan tercapai semua cita.
Jenguklah ibu dan ayah kita selagi bisa, sebelum semuanya berakhir menjadi kenangan, bawakan oleh-oleh yang disukainya. Sebab jika mereka telah tiada maka tak akan ada lagi yang menunggu kita pulang, tak ada lagi menyiapkan kita sarapan, yang ada hanyalah rumah yang akan menjadi kenangan. "Muliakanlah Orang tua kita karena kitapun akan menjadi tua".
Wallahu ‘Alam Bisshowab
Jumat, 11 Juni 2010
Maafkanku Mama
Oleh Galih Ari Permana
"Galih, uang mama tinggal lima puluh ribu." Sebuah kalimat yang tiba-tiba terlontar diantara percakapan aku dengan mama. Kalimat tersebut seperti membuat sebuah hentakan yang menghujam hatiku.
Sebenarnya kalimat seperti itu bukanlah untuk kali yang pertama yang aku dengar dari mulut mama. Hanya saja aku sering merasa berdosa setiap mama berkata seperti itu. Aku merasa seperti anak yang belum bisa berbakti dengan baik. Aku sadar tanggung jawab keluarga ada di pundakku sebagai anak lelaki yang paling besar selepas kepergian Bapak. Fiuh...hanya helaan nafas sebagai responku terhadap perkataan mama sambil menundukkan kepala.
Setiap anak tentunya sangat ingin berbakti terhadap kedua orang tuanya terlebih kepada ibu. Kasih ibu kepada anaknya menjadikan jasa tanpa balas, cinta tanpa batas, yang sebenarnya tidak akan terbayarkan dengan bakti seorang anak sepanjang hayatnya. Aku pun demikian.
Jauh di lubuk hatiku keinginan untuk membuat mama bahagia di sisa usianya adalah cita-cita besarku. Membuatnya untuk selalu tersenyum adalah lukisan yang terindah bagiku. Sedih dan gundahnya adalah duri yang menancap bagiku.
Aku sangat sadar bahwa hasil kerjaku hanya pas untuk makan sehari-hari. Aku juga mengetahui bahwa saat ini mama sering menahan diri untuk membeli sesuatu yang dia sukai dan lebih baik dialokasikan untuk hal-hal yang menjadi kebutuhan di rumah. Aku tahu bahwa keriput dan warna putih di rambutnya yang kian hari kian tampak sebagai akibat beban pikiran yang mama tanggung karena memikirkan masa depan anak-anaknya.
Sering aku memperhatikan wajahnya ketika tidur. Wajah letihnya mengurus rumah dan anak-anaknya membuat aku semakin merasa menjadi anak yang kurang berbakti. Rasanya tidak adil apa yang mama terima dari anak-anaknya jika dibandingkan dengan kasih sayang dan pengorbanannya. Sembari memperhatikan wajah mama dalam keadaan tidur aku selalu berdoa dala hati,"Ya Allah, janganlah Engkau panggil mama sebelum mama merasa puas dengan bakti yang aku berikan untuknya."
Pernah suatu hari mama berkata," Jika kamu dan yang lainnya menikah, nanti mama tinggal sendiri?"
Dengan mulut bergetar aku menjawab,"Mama akan menjadi tanggung jawab Galih. Mama akan tinggal sama Galih." Hampir saja air mata ini menetes.
Kepergian bapak memang cukup meninggalkan luka di hati mama. Kekosongan dan rasa sepi kerap menyapanya. Sehingga sering aku menemukan mama duduk melamun sambil menatapi foto bapak yang terpajang di ruang tamu. Kehilangan pendamping hidup serasa hilang separuh jiwa, sepi, hampa, meski mama masih memiliki lima orang anak namun ramai itu hanya sejenak. Tidak ada lagi teman berbagi cerita, keluh-kesah, dan orang yang menjaganya.
Aku menyadari bahwa ini adalah sebuah perjuangan hidup. Bahkan lebih dari itu ini adalah medan kebaikan jika aku dapat berbakti dan memberikan kebahagiaan untuk mama. Dengannya akan mengalirkan banyak pahala yang akan membuat hidupku menjadi bermakna dan bernilai. Oleh karena itu sekuat mungkin aku menghindari sikap berputus asa dari rahmat Allah SWT. Keadaan ini bukan untuk diratapi dan disesali. Aku harus menghadapinya dengan terus-menerus memohon pertolongan dari Yang Maha Kuasa untuk tetap membuatku semangat berikhtiar dengan maksimal.
Dalam setiap sujud tidak lupa aku berdoa untuk mama. Semoga Allah SWT selalu menjaga mama dan memberikan mama kesehatan. Semoga Allah SWT menyayangi mama sebagaimana mama menyayangi aku. Semoga Allah SWT mencabut gundah dan gelisah di hati mama. Menjadikan sisa umur mama penuh dengan kebahagiaan dan kebaikan.
Ada satu hal yang sebenarnya ingin sekali aku lakukan namun sering tidak mampu. Aku sangat ingin memeluk mama dan berkata kepadanya bahwa aku cinta dan sayang kepadanya.
Ya Allah, berikanlah hamba-Mu ini kesempatan untuk dapat membahagiakan mama di sisa usianya.
sumber: www.eramuslim.com
"Galih, uang mama tinggal lima puluh ribu." Sebuah kalimat yang tiba-tiba terlontar diantara percakapan aku dengan mama. Kalimat tersebut seperti membuat sebuah hentakan yang menghujam hatiku.
Sebenarnya kalimat seperti itu bukanlah untuk kali yang pertama yang aku dengar dari mulut mama. Hanya saja aku sering merasa berdosa setiap mama berkata seperti itu. Aku merasa seperti anak yang belum bisa berbakti dengan baik. Aku sadar tanggung jawab keluarga ada di pundakku sebagai anak lelaki yang paling besar selepas kepergian Bapak. Fiuh...hanya helaan nafas sebagai responku terhadap perkataan mama sambil menundukkan kepala.
Setiap anak tentunya sangat ingin berbakti terhadap kedua orang tuanya terlebih kepada ibu. Kasih ibu kepada anaknya menjadikan jasa tanpa balas, cinta tanpa batas, yang sebenarnya tidak akan terbayarkan dengan bakti seorang anak sepanjang hayatnya. Aku pun demikian.
Jauh di lubuk hatiku keinginan untuk membuat mama bahagia di sisa usianya adalah cita-cita besarku. Membuatnya untuk selalu tersenyum adalah lukisan yang terindah bagiku. Sedih dan gundahnya adalah duri yang menancap bagiku.
Aku sangat sadar bahwa hasil kerjaku hanya pas untuk makan sehari-hari. Aku juga mengetahui bahwa saat ini mama sering menahan diri untuk membeli sesuatu yang dia sukai dan lebih baik dialokasikan untuk hal-hal yang menjadi kebutuhan di rumah. Aku tahu bahwa keriput dan warna putih di rambutnya yang kian hari kian tampak sebagai akibat beban pikiran yang mama tanggung karena memikirkan masa depan anak-anaknya.
Sering aku memperhatikan wajahnya ketika tidur. Wajah letihnya mengurus rumah dan anak-anaknya membuat aku semakin merasa menjadi anak yang kurang berbakti. Rasanya tidak adil apa yang mama terima dari anak-anaknya jika dibandingkan dengan kasih sayang dan pengorbanannya. Sembari memperhatikan wajah mama dalam keadaan tidur aku selalu berdoa dala hati,"Ya Allah, janganlah Engkau panggil mama sebelum mama merasa puas dengan bakti yang aku berikan untuknya."
Pernah suatu hari mama berkata," Jika kamu dan yang lainnya menikah, nanti mama tinggal sendiri?"
Dengan mulut bergetar aku menjawab,"Mama akan menjadi tanggung jawab Galih. Mama akan tinggal sama Galih." Hampir saja air mata ini menetes.
Kepergian bapak memang cukup meninggalkan luka di hati mama. Kekosongan dan rasa sepi kerap menyapanya. Sehingga sering aku menemukan mama duduk melamun sambil menatapi foto bapak yang terpajang di ruang tamu. Kehilangan pendamping hidup serasa hilang separuh jiwa, sepi, hampa, meski mama masih memiliki lima orang anak namun ramai itu hanya sejenak. Tidak ada lagi teman berbagi cerita, keluh-kesah, dan orang yang menjaganya.
Aku menyadari bahwa ini adalah sebuah perjuangan hidup. Bahkan lebih dari itu ini adalah medan kebaikan jika aku dapat berbakti dan memberikan kebahagiaan untuk mama. Dengannya akan mengalirkan banyak pahala yang akan membuat hidupku menjadi bermakna dan bernilai. Oleh karena itu sekuat mungkin aku menghindari sikap berputus asa dari rahmat Allah SWT. Keadaan ini bukan untuk diratapi dan disesali. Aku harus menghadapinya dengan terus-menerus memohon pertolongan dari Yang Maha Kuasa untuk tetap membuatku semangat berikhtiar dengan maksimal.
Dalam setiap sujud tidak lupa aku berdoa untuk mama. Semoga Allah SWT selalu menjaga mama dan memberikan mama kesehatan. Semoga Allah SWT menyayangi mama sebagaimana mama menyayangi aku. Semoga Allah SWT mencabut gundah dan gelisah di hati mama. Menjadikan sisa umur mama penuh dengan kebahagiaan dan kebaikan.
Ada satu hal yang sebenarnya ingin sekali aku lakukan namun sering tidak mampu. Aku sangat ingin memeluk mama dan berkata kepadanya bahwa aku cinta dan sayang kepadanya.
Ya Allah, berikanlah hamba-Mu ini kesempatan untuk dapat membahagiakan mama di sisa usianya.
sumber: www.eramuslim.com
Selasa, 30 Maret 2010
Wahai Anakku, Cintailah Al-Qur’an!
Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak adalah hal yang paling pokok dalam Islam. Dengan hal tersebut, anak akan senantiasa dalam fitrahnya dan di dalam hatinya bersemayam cahaya-cahaya hikmah sebelum hawa nafsu dan maksiat mengeruhkan hati dan menyesatkannya dari jalan yang benar.
Para sahabat nabi benar-benar mengetahui pentingnya menghafal Al-Qur’an dan pengaruhnya yang nyata dalam diri anak. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anaknya sebagai pelaksanaan atas saran yang diberikan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits yang diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash,
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Sebelum kita memberi tugas kepada anak-anak kita untuk menghafal Al-Qur’an, maka terlebih dahulu kita harus menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an. Sebab, menghafal Al-Qur’an tanpa disertai rasa cinta tidak akan memberi faedah dan manfaat. Bahkan, mungkin jika kita memaksa anak untuk menghafal Al-Qur’an tanpa menanamkan rasa cinta terlebih dahulu, justru akan memberi dampak negatif bagi anak. Sedangkan mencintai Al-Qur’an disertai menghafal akan dapat menumbuhkan perilaku, akhlak, dan sifat mulia.
Menanamkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an pertama kali harus dilakukan di dalam keluarga, yaitu dengan metode keteladanan. Karena itu, jika kita menginginkan anak mencintai Al-Qur’an, maka jadikanlah keluarga kita sebagai suri teladan yang baik dengan cara berinteraksi secara baik dengan Al-Qur’an. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memuliakan kesucian Al-Qur’an, misalnya memilih tempat paling mulia dan paling tinggi untuk meletakkan mushaf Al-Qur’an, tidak menaruh barang apapun di atasnya dan tidak meletakkannya di tempat yang tidak layak, bahkan membawanya dengan penuh kehormatan dan rasa cinta, sehingga hal tersebut akan merasuk ke dalam alam bawah sadarnya bahwa mushaf Al-Qur’an adalah sesuatu yang agung, suci, mulia, dan harus dihormati, dicintai, dan disucikan.
Sering memperdengarkan Al-Qur’an di rumah dengan suara merdu dan syahdu, tidak memperdengarkan dengan suara keras agar tidak mengganggu pendengarannya. Memperlihatkan pada anak kecintaan kita pada Al-Qur’an, misalnya dengan cara rutin membacanya.
Adapun metode-metode yang bisa digunakan anak mencintai Al-Qur’an diantaranya adalah:
1. Bercerita kepada anak dengan kisah-kisah yang diambil dari Al-Qur’an.
Mempersiapkan cerita untuk anak yang bisa menjadikannya mencintai Allah Ta’ala dan Al-Qur’an Al-Karim, akan lebih bagus jika kisah-kisah itu diambil dari Al-Qur’an secara langsung, seperti kisah tentang tentara gajah yang menghancurkan Ka’bah, kisah perjalanan nabi Musa dan nabi Khidir, kisah Qarun, kisah nabi Sulaiman bersama ratu Bilqis dan burung Hud-hud, kisah tentang Ashabul Kahfi, dan lain-lain.
Sebelum kita mulai bercerita kita katakan pada anak, “Mari Sayangku, bersama-sama kita dengarkan salah satu kisah Al-Qur’an.”
Sehingga rasa cinta anak terhadap cerita-cerita itu dengan sendirinya akan terikat dengan rasa cintanya pada Al-Qur’an. Namun, dalam menyuguhkan cerita pada anak harus diperhatikan pemilihan waktu yang tepat, pemilihan bahasa yang cocok, dan kalimat yang terkesan, sehingga ia akan memberi pengaruh yang kuat pada jiwa dan akal anak.
2. Sabar dalam menghadapi anak.
Misalnya ketika anak belum bersedia menghafal pada usia ini, maka kita harus menangguhkannya sampai anak benar-benar siap. Namun kita harus selalu memperdengarkan bacaan Al-Qur’an kepadanya.
3. Menggunakan metode pemberian penghargaan untuk memotivasi anak.
Misalnya jika anak telah menyelesaikan satu surat kita ajak ia untuk jalan-jalan/rekreasi, atau dengan menggunakan lembaran prestasi/piagam penghargaan, sehingga anak akan semakin terdorong untuk mengahafal Al-Qur’an.
4. Menggunakan semboyan untuk mengarahkan anak mencintai Al-Qur’an.
Misalnya :
Saya mencintai Al-Qur’an.
Al-Qur’an Kalamullah.
Allah mencintai anak yang cinta Al-Qur’an.
Saya suka menghafal Al-Qur’an.
Atau sebelum menyuruh anak memulai menghafal Al-Quran, kita katakan kepada mereka, “Al-Qur’an adalah kitab Allah yang mulia, orang yang mau menjaganya, maka Allah akan menjaga orang itu. Orang yang mau berpegang teguh kepadanya, maka akan mendapat pertolongan dari Allah. Kitab ini akan menjadikan hati seseorang baik dan berperilaku mulia.”
5. Menggunakan sarana menghafal yang inovatif.
Hal ini disesuaikan dengan kepribadian dan kecenderungan si anak (cara belajarnya), misalnya :
Hal ini sangat penting, karena kita tidak boleh menganggap anak seperti alat yang dapat dimainkan kapan saja, serta melupakan kebutuhan anak itu sendiri. Karena ketika kita terlalu memaksa anak dan sering menekannya dapat menimbulkan kebencian di hati anak, disebabkan dia menanggung kesulitan yang lebih besar. Oleh karena itu, jika kita ingin menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an di hati anak, maka kita harus memilih waktu yang tepat untuk menghafal dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Adapun waktu yang dimaksud bukan saat seperti di bawah ini:
Setelah lama begadang, dan baru tidur sebentar,
Setelah melakukan aktivitas fisik yang cukup berat,
Setelah makan dan kenyang,
Waktu yang direncanakan anak untuk bermain,
Ketika anak dalam kondisi psikologi yang kurang baik,
Ketika terjadi hubungan tidak harmonis anatara orangtua dan anak, supaya anak tidak membenci Al-Qur’an disebabkan perselisihan dengan orangtuanya.
Kemudian hal terakhir yang tidak kalah penting agar anak mencintai Al-Qur’an adalah dengan membuat anak-anak kita mencintai kita, karena ketika kita mencintai Al-Qur’an, maka anak-anak pun akan mencintai Al-Qur’an, karena mereka mengikuti orang yang dicintai. Adapun beberapa cara agar anak-anak kita semakin mencintai kita antara lain:
Diringkas dari Agar Anak Mencintai Al-Qur’an, Dr. Sa’ad Riyadh
***
Artikel muslimah.or.id
Para sahabat nabi benar-benar mengetahui pentingnya menghafal Al-Qur’an dan pengaruhnya yang nyata dalam diri anak. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anaknya sebagai pelaksanaan atas saran yang diberikan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits yang diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash,
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Sebelum kita memberi tugas kepada anak-anak kita untuk menghafal Al-Qur’an, maka terlebih dahulu kita harus menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an. Sebab, menghafal Al-Qur’an tanpa disertai rasa cinta tidak akan memberi faedah dan manfaat. Bahkan, mungkin jika kita memaksa anak untuk menghafal Al-Qur’an tanpa menanamkan rasa cinta terlebih dahulu, justru akan memberi dampak negatif bagi anak. Sedangkan mencintai Al-Qur’an disertai menghafal akan dapat menumbuhkan perilaku, akhlak, dan sifat mulia.
Menanamkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an pertama kali harus dilakukan di dalam keluarga, yaitu dengan metode keteladanan. Karena itu, jika kita menginginkan anak mencintai Al-Qur’an, maka jadikanlah keluarga kita sebagai suri teladan yang baik dengan cara berinteraksi secara baik dengan Al-Qur’an. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memuliakan kesucian Al-Qur’an, misalnya memilih tempat paling mulia dan paling tinggi untuk meletakkan mushaf Al-Qur’an, tidak menaruh barang apapun di atasnya dan tidak meletakkannya di tempat yang tidak layak, bahkan membawanya dengan penuh kehormatan dan rasa cinta, sehingga hal tersebut akan merasuk ke dalam alam bawah sadarnya bahwa mushaf Al-Qur’an adalah sesuatu yang agung, suci, mulia, dan harus dihormati, dicintai, dan disucikan.
Sering memperdengarkan Al-Qur’an di rumah dengan suara merdu dan syahdu, tidak memperdengarkan dengan suara keras agar tidak mengganggu pendengarannya. Memperlihatkan pada anak kecintaan kita pada Al-Qur’an, misalnya dengan cara rutin membacanya.
Adapun metode-metode yang bisa digunakan anak mencintai Al-Qur’an diantaranya adalah:
1. Bercerita kepada anak dengan kisah-kisah yang diambil dari Al-Qur’an.
Mempersiapkan cerita untuk anak yang bisa menjadikannya mencintai Allah Ta’ala dan Al-Qur’an Al-Karim, akan lebih bagus jika kisah-kisah itu diambil dari Al-Qur’an secara langsung, seperti kisah tentang tentara gajah yang menghancurkan Ka’bah, kisah perjalanan nabi Musa dan nabi Khidir, kisah Qarun, kisah nabi Sulaiman bersama ratu Bilqis dan burung Hud-hud, kisah tentang Ashabul Kahfi, dan lain-lain.
Sebelum kita mulai bercerita kita katakan pada anak, “Mari Sayangku, bersama-sama kita dengarkan salah satu kisah Al-Qur’an.”
Sehingga rasa cinta anak terhadap cerita-cerita itu dengan sendirinya akan terikat dengan rasa cintanya pada Al-Qur’an. Namun, dalam menyuguhkan cerita pada anak harus diperhatikan pemilihan waktu yang tepat, pemilihan bahasa yang cocok, dan kalimat yang terkesan, sehingga ia akan memberi pengaruh yang kuat pada jiwa dan akal anak.
2. Sabar dalam menghadapi anak.
Misalnya ketika anak belum bersedia menghafal pada usia ini, maka kita harus menangguhkannya sampai anak benar-benar siap. Namun kita harus selalu memperdengarkan bacaan Al-Qur’an kepadanya.
3. Menggunakan metode pemberian penghargaan untuk memotivasi anak.
Misalnya jika anak telah menyelesaikan satu surat kita ajak ia untuk jalan-jalan/rekreasi, atau dengan menggunakan lembaran prestasi/piagam penghargaan, sehingga anak akan semakin terdorong untuk mengahafal Al-Qur’an.
4. Menggunakan semboyan untuk mengarahkan anak mencintai Al-Qur’an.
Misalnya :
Saya mencintai Al-Qur’an.
Al-Qur’an Kalamullah.
Allah mencintai anak yang cinta Al-Qur’an.
Saya suka menghafal Al-Qur’an.
Atau sebelum menyuruh anak memulai menghafal Al-Quran, kita katakan kepada mereka, “Al-Qur’an adalah kitab Allah yang mulia, orang yang mau menjaganya, maka Allah akan menjaga orang itu. Orang yang mau berpegang teguh kepadanya, maka akan mendapat pertolongan dari Allah. Kitab ini akan menjadikan hati seseorang baik dan berperilaku mulia.”
5. Menggunakan sarana menghafal yang inovatif.
Hal ini disesuaikan dengan kepribadian dan kecenderungan si anak (cara belajarnya), misalnya :
- Bagi anak yang dapat berkonsentrasi dengan baik melalui pendengarannya, dapat menggunakan sarana berupa kaset, atau program penghafal Al-Qur’an digital, agar anak bisa mempergunakannya kapan saja, serta sering memperdengarkan kepadanya bacaan Al-Qur’an dengan lantunan yang merdu dan indah.
- Bagi anak yang peka terhadap sentuhan, memberikannya Al-Qur’an yang cantik dan terlihat indah saat di bawanya, sehingga ia akan suka membacanya, karena ia ditulis dalam lembaran-lembaran yang indah dan rapi.
- Bagi anak yang dapat dimasuki melalui celah visual, maka bisa mengajarkannya melalui video, komputer, layer proyektor, melalui papan tulis, dan lain-lain yang menarik perhatiannya.
Hal ini sangat penting, karena kita tidak boleh menganggap anak seperti alat yang dapat dimainkan kapan saja, serta melupakan kebutuhan anak itu sendiri. Karena ketika kita terlalu memaksa anak dan sering menekannya dapat menimbulkan kebencian di hati anak, disebabkan dia menanggung kesulitan yang lebih besar. Oleh karena itu, jika kita ingin menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an di hati anak, maka kita harus memilih waktu yang tepat untuk menghafal dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Adapun waktu yang dimaksud bukan saat seperti di bawah ini:
Setelah lama begadang, dan baru tidur sebentar,
Setelah melakukan aktivitas fisik yang cukup berat,
Setelah makan dan kenyang,
Waktu yang direncanakan anak untuk bermain,
Ketika anak dalam kondisi psikologi yang kurang baik,
Ketika terjadi hubungan tidak harmonis anatara orangtua dan anak, supaya anak tidak membenci Al-Qur’an disebabkan perselisihan dengan orangtuanya.
Kemudian hal terakhir yang tidak kalah penting agar anak mencintai Al-Qur’an adalah dengan membuat anak-anak kita mencintai kita, karena ketika kita mencintai Al-Qur’an, maka anak-anak pun akan mencintai Al-Qur’an, karena mereka mengikuti orang yang dicintai. Adapun beberapa cara agar anak-anak kita semakin mencintai kita antara lain:
- Senantiasa bergantung kepada Allah, selalu berdo’a kepada Allah untuk kebaikan anak-anak. Dengan demikian Allah akan memberikan taufikNya dan akan menyatukan hati kita dan anak-anak.
- Bergaul dengan anak-anak sesuai dengan jenjang umurnya, yaitu sesuai dengan kaedah, “Perlakukan manusia menurut kadar akalnya.” Sehingga kita akan dengan mudah menembus hati anak-anak.
- Dalam memberi pengarahan dan nasehat, hendaknya diterapkan metode beragam supaya anak tidak merasa jemu saat diberi pendidikan dan pengajaran.
- Memberikan sangsi kepada anak dengan cara tidak memberikan bonus atau menundanya sampai waktu yang ditentukan adalah lebih baik daripada memberikan sangsi berupa sesuatu yang merendahkan diri anak. Tujuannya tidak lain supaya anak bisa menghormati dirinya sendiri sehingga dengan mudah ia akan menghormati kita.
- Memahami skill dan hobi yang dimiliki anak-anak, supaya kita dapat memasukkan sesuatu pada anak dengan cara yang tepat.
- Berusaha dengan sepenuh hati untuk bersahabat dengan anak-anak, selanjutnya memperlakukan mereka dengan bertolak pada dasar pendidikan, bukan dengan bertolak pada dasar bahwa kita lebih utama dari anak-anak, mengingat kita sudah memberi makan, minum, dan menyediakan tempat tinggal. Hal ini secara otomatis akan membuat mereka taat tanpa pernah membantah.
- Membereskan hal-hal yang dapat menghalangi kebahagiaan dan ketenangan hubungan kita dengan anak-anak.
- Mengungkapkan rasa cinta kepada anak, baik baik dengan lisan maupun perbuatan.
Diringkas dari Agar Anak Mencintai Al-Qur’an, Dr. Sa’ad Riyadh
***
Artikel muslimah.or.id
Mengenal Islam
Penyusun: Ummu Ziyad
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar
Suatu ketika, terjadi percakapan antara sepasang suami istri.
“Bang, jumlah orang Islam tuh lebih sedikit ya daripada Nasrani?”
“Iya kalau ukurannya internasional lebih sedikit.”
“Hmm… belum lagi kaum munafiqin di dalam Islam itu sendiri ya bang? (wal’iyya dzubillah.)”
“Iya…”
“Belum lagi orang-orang yang berpikiran liberal ya?
“Iya…”
“Belum lagi…”
Tahu tidak saudariku, belum lagi yang terakhir itu apa?
Belum lagi orang yang mungkin sebenarnya mengaku dirinya Islam, tapi ia tidak mengenal Islam dan mungkin tidak paham bahwa dia telah keluar dari Islam. Kita berlindung kepada Allah dari hal demikian.
Apa Itu Islam?
Makna Islam sebagaimana didefinisikan para ulama adalah
االأِسْتِسْلامُ لِلَّهِ بِالتّوحيدد
al istislamu lillahi bit tauhid
و الأنقياد له بالطاعة
wal inqiyaadu lahu bit too’ah
و البراءة من الشرك و أهله
wal barooatu minasyirki wa ahlihi
Mari kita perjelas satu persatu definisi tersebut.
1. Berserah diri kepada Allah dengan cara hanya beribadah kepada-Nya dan tidak kepada selain-Nya.
Artinya kita benar-benar melakukan peribadatan dan segala bentuk penghambaan hanya kepada Allah.
“Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Qs. Al Ikhlas [112]: 1-4)
Sebagai contoh, sebagian besar dari saudara kita masih sulit meninggalkan kepercayaan pada ramalan bintang (zodiak) dan penentuan nasib baik dan buruk berdasarkan hal ini (artinya ia menggantungkan urusannya dan pengharapannya pada sesuatu selain Allah). Padahal perkara ghaib hanyalah Allah yang mengetahui dan hanya kepada Allah-lah seseorang menggantungkan segala urusannya selain usaha yang dilakukannya.
Akhirnya, dari perkara yang sulit ditinggalkan ini merambat ke hal-hal lain yang juga merupakan bentuk-bentuk kesyirikan yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Maka untuk poin pertama ini, kita harus memperbaiki ilmu tentang tauhid. Dan janganlah merasa aman dan merasa pintar sehingga mengatakan “Ah, bosan bahasannya tauhid terus.” Bukankah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berdakwah di Mekah selama 13 tahun untuk menanamkan pondasi penting ini kepada para sahabat? Begitu pentingnya tauhid, karena menjadi dasar untuk peribadahan yang lain. Dan begitu pentingnya tauhid ini, agar segala amal ibadah tercatat sebagai amalan ibadah dan tidak terhapus begitu saja oleh kesyirikan.
Sebagai contoh pentingnya tauhid, tidak akan ada kemenangan besar dalam jihad fi sabilillah jika di dalamnya terdapat hal-hal yang merusak tauhid, seperti jimat, bergantung pada jin, aji tolak bala dan sebagainya.
2. Menundukkan ketaatan
Artinya, seorang muslim menundukkan segala bentuk ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-Nya. Mungkin kita tidak sadar, bahwa selama ini kita bukan taat kepada Allah dan Rasul sebagaiman yang diperintahkan oleh syari’at. Bahkan kita terjatuh pada perilaku orang-orang jahiliyyah yang lebih mengedepankan ketaatan kepada tetua yang jika ditelusuri ternyata tidak mengajarkan hal-hal yang sesuai dengan syari’at-Nya.
َاوَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْاْ إِلَى مَا أَنزَلَ اللّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُواْ حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ
“Apabila dikatakan kepada mereka: Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (Qs. Al Maaidah [5]: 104)
Sebagai contoh kecil, karena sudah dari kecil diajarkan merayakan maulid nabi, isra mi’raj dan hari-hari besar yang bahkan dijadikan libur nasional, maka kita menganggap bahwa kita harus tunduk dan ikut merayakannya. Padahal jika benar kita taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka kita tunduk dan pasrah tidak merayakan hari-hari tersebut karena memang hari-hari tersebut tidak disyari’atkan (tidak diperintahkan) oleh Allah dan Rasul-Nya.
3. Berlepas diri dari syirik dan pelakunya
Jika seseorang berserah diri hanya kepada Allah dan tidak kepada yang lain, maka ia akan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. Karena sungguh sia-sialah seluruh amalan seorang muslim jika ia melakukan kesyirikan.
وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
“…Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al An’am [6]: 88}
Contoh dalam masalah ini adalah ucapan selamat natal kepada kaum nasrani. Padahal jelas-jelas natal dirayakan oleh mereka dalam rangka ‘kelahiran’ yesus (yang dianggap tuhan). Maka jika kita memberi ucapan selamat kepada mereka, ini dapat diartikan menyetujui hari tersebut dan berarti mengakui adanya tuhan selain Allah.
Begitulah kesyirikan, kadang samar sekali tak terlihat secara langsung, namun sungguh sangat membinasakan. Oleh sebab itulah, kaum muslimin disarankan membaca do’a sebagai berikut agar segala bentuk kesyirikan yang mungkin secara tidak sadar dilakukan, diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
اللهمَّ إنّي أعوذُ بكَ أنْ أُشْركَ بكَ وَ انا أعْلمُ و أستغفرُك لما لا اعْلمُِ
Allahuma inni ‘a udzu bika an usyrika bika wa ana a’lamu wa astaghfiruka limaa laa a’ lam.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dari berbuat kesyirikan kepadamu yang aku ketahui, dan aku memohon ampunanmu dari kesyirikan yang aku tidak ketahui.” (HR. Ahmad)
Semoga menjadi pengenalan singkat tentang Islam yang bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.
Maraji’:
- Majalah Al Furqon edisi 5 tahun ke-8 1429/2008
- Syarah Tsalatsatul Ushul (terjemah) Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Pustaka Al Qowam cetakan ke-6 2005
Artikel muslimah.or.id
Luangkan Waktumu untuk Membaca Al-Qur’an!
Penulis: Ummu Yusuf Wikayatu Diny
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar
Saudariku…
Jangan karena kesibukan dan banyaknya kegiatan menjadikan kita lupa untuk membaca dan mentadaburi al-Qur’an. Sesungguhnya ketenangan dan ketentraman dapat diperoleh dari Al-Qur’an.
Hal ini berdasarkan firman Alloh, “Ingatlah hanya dengan mengingat Alloh-lah hati menjadi tentram.” (Qs. ar-Ra’d: 28)
Dari Abdullah bin Mas’ud radiallohu ‘anhu Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf.” (Shahih HR.Tirmidzi)
Dan bahkan, iri terhadap mereka yang telah mengamalkan Al-Qur’an, dibolehkan. Dari Ibnu Umar radiallohu ‘anhu yang meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bahwasannya beliau bersabda,
“Tidak berlaku iri kecuali terhadap dua orang, seseorang yang dianugrahi Alloh Al-Qur’an lantas dia mengamalkannya sepanjang malam dan sepanjang siang dan seseorang yang dianugerahi Alloh harta lantas dia menginfakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu terdapat permisalan yang baik bagi yang membaca Al-Qur’an, karena Rasululloh pernah bersabda, “Permisalan seorang muslim yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah jeruk, baunya wangi dan rasanya lezat, sedangkan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan buah kurma yang tidak ada baunya dan rasanya manis. Permisalan orang munafik yang membaca Al-Qur’an bagaikan kemangi yang baunya wangi rasanya pahit, sedangkan orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan labu yang tidak ad wanginya dan rasanya pahit.” (HR. Bukhari Muslim)
Terdapat hikmah yang indah dari perkataan al-Ajuri rahimahullah,
“Barang siapa yang merenungi firman-Nya maka ia akan mengenal Rabbnya, akan mengetahui keutamaannya dibandingkan orang orang mukmin yang lain, dia akan menyadari kewajibannya dalam beribadah hingga senantiasa berusaha untuk menjaga kewajiban tersebut. Ia akan berhati-hati terhadap apa yang dilarang Rabb-Nya, mencintai apa yang dicintai-Nya. Barang siapa yang memiliki sifat yang demikian, ketika membaca al-Qur’an dan ketika mendengarkanya, maka Al-Qur’an akan menjadi penawar hatinya, ia akan merasa cukup tanpa harta, mulia tanpa kesulitan, lembut dalam menyikapi orang yang kasar padanya.
Orang yang memiliki sifat demikian, ketika ia memulai membaca sebuah surat yang tergambar dibenaknya adalah sejauh mana dia dapat mengambil pelajaran terhadap yang dia baca. Tujuannya membaca Al-Qur’an tidak semata-mata untuk mengkhatamkannya akan tetapi seberapa besar ia dapat memahami perintah Alloh dan mengambil pelajaran darinya. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah maka tidaklah pantas membacanya dengan hati yang kosong lagi lalai, dan Allah Ta’ala maha memberi taufik terhadap yang demikian.”
Wahai saudariku, jangan sampai waktu kita tidak ada sedikitpun untuk membaca atau membaca Al-Qur’an. Berusahalah, walaupun sedikit waktu tersisa.
***
Artikel: muslimah.or.id
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar
Saudariku…
Jangan karena kesibukan dan banyaknya kegiatan menjadikan kita lupa untuk membaca dan mentadaburi al-Qur’an. Sesungguhnya ketenangan dan ketentraman dapat diperoleh dari Al-Qur’an.
Hal ini berdasarkan firman Alloh, “Ingatlah hanya dengan mengingat Alloh-lah hati menjadi tentram.” (Qs. ar-Ra’d: 28)
Dari Abdullah bin Mas’ud radiallohu ‘anhu Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf.” (Shahih HR.Tirmidzi)
Dan bahkan, iri terhadap mereka yang telah mengamalkan Al-Qur’an, dibolehkan. Dari Ibnu Umar radiallohu ‘anhu yang meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bahwasannya beliau bersabda,
“Tidak berlaku iri kecuali terhadap dua orang, seseorang yang dianugrahi Alloh Al-Qur’an lantas dia mengamalkannya sepanjang malam dan sepanjang siang dan seseorang yang dianugerahi Alloh harta lantas dia menginfakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu terdapat permisalan yang baik bagi yang membaca Al-Qur’an, karena Rasululloh pernah bersabda, “Permisalan seorang muslim yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah jeruk, baunya wangi dan rasanya lezat, sedangkan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan buah kurma yang tidak ada baunya dan rasanya manis. Permisalan orang munafik yang membaca Al-Qur’an bagaikan kemangi yang baunya wangi rasanya pahit, sedangkan orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan labu yang tidak ad wanginya dan rasanya pahit.” (HR. Bukhari Muslim)
Terdapat hikmah yang indah dari perkataan al-Ajuri rahimahullah,
“Barang siapa yang merenungi firman-Nya maka ia akan mengenal Rabbnya, akan mengetahui keutamaannya dibandingkan orang orang mukmin yang lain, dia akan menyadari kewajibannya dalam beribadah hingga senantiasa berusaha untuk menjaga kewajiban tersebut. Ia akan berhati-hati terhadap apa yang dilarang Rabb-Nya, mencintai apa yang dicintai-Nya. Barang siapa yang memiliki sifat yang demikian, ketika membaca al-Qur’an dan ketika mendengarkanya, maka Al-Qur’an akan menjadi penawar hatinya, ia akan merasa cukup tanpa harta, mulia tanpa kesulitan, lembut dalam menyikapi orang yang kasar padanya.
Orang yang memiliki sifat demikian, ketika ia memulai membaca sebuah surat yang tergambar dibenaknya adalah sejauh mana dia dapat mengambil pelajaran terhadap yang dia baca. Tujuannya membaca Al-Qur’an tidak semata-mata untuk mengkhatamkannya akan tetapi seberapa besar ia dapat memahami perintah Alloh dan mengambil pelajaran darinya. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah maka tidaklah pantas membacanya dengan hati yang kosong lagi lalai, dan Allah Ta’ala maha memberi taufik terhadap yang demikian.”
Wahai saudariku, jangan sampai waktu kita tidak ada sedikitpun untuk membaca atau membaca Al-Qur’an. Berusahalah, walaupun sedikit waktu tersisa.
***
Artikel: muslimah.or.id
Selasa, 12 Januari 2010
Nikmat yang Sering Dilupakan
Penyusun: Ummu Muhammad Anik Rahmawati
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar
Salah satu makar orang kafir adalah hendak menjadikan kaum muslimin berpandangan negatif terhadap agamanya sendiri. Mereka menampakkan Islam ini sebagai agama kuno, agama orang kampung, agama kaum pinggiran, agama orang-orang miskin, agama orang-orang yang mencuri sandal di masjid, agama yang suka kekerasan, agama yang merendahkan kaum wanita, dan berbagai bentuk image buruk lain yang mereka pasangkan dengan agama Islam ini. Sehingga kita dapati, banyak diantara saudara-saudara kita yang merasa malu dengan Islam, tidak menampakkan identitas kemuslimannya, mudah melakukan tasyabuh (peniruan) terhadap orang kafir, tidak bangga dengan Islam, bahkan mereka bangga dengan meniru-niru kebudayaan orang kafir, mereka lebih membanggakan tokoh-tokoh kafir dibandingkan dengan tokoh kaum muslim sendiri.
Padahal sesungguhnya Islam merupakan nikmat paling agung yang dikaruniakan Allah tidak kepada semua hambanya. Berbeda dengan nikmat lain, yang berupa makanan atau rizki, Allah berikan kepada semua hamba-Nya, baik manusia (baik kafir ataupun mukmin), binatang, ataupun tumbuhan. Sedangkan Islam hanya diberikan kepada manusia pilihan saja. Jadi, hendaknya kita mensyukuri nikmat Islam ini, agar Allah tidak mencabutnya dari diri kita.
Kita juga sering mendengar ceramah-caramah para dai, mengingatkan agar kita mensyukuri nikmat Islam, yang merupakan nikmat paling besar dari Allah. Tapi, banyak diantara kita yang masih lalai akan nikmat tersebut. Hal ini karena masih banyak diantara kaum muslimin yang belum paham tentang Islam. Sehingga di tengah gencarnya pemurtadan yang dilakukan oleh para misionaris, banyak dari saudara-saudara kita yang belum paham akan nikmat Islam sehingga menjadi mangsa mereka. Padahal, sungguh merupakan kecelakaan yang besar ketika seseorang berpaling dari Islam, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Qs. Al-Baqarah: 217, yang artinya,
“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”
Agar kita bangga dan bersyukur akan nikmat Islam ini hendaknya kita tahu, apa itu Islam, dan apa kelebihan-kelebihannya jika dibandingkan dengan agama lain, sehingga syukur kita ini, tidak hanya di lisan, tapi juga di hati, yaitu berupa keyakinan yang mangakar kuat akan kebenaran Islam, serta dilaksanakan dalam perbuatan-perbutan untuk melaksanakan konsekuensi dari Islam.
Makna Islam
Ulama mengartikan Islam dengan berbagi makna, antara lain:
1. Iman dan tho’at, ini adalah pendapat Abul Aliyah, jumhur ulama (Tafsir Al-Qurthubi 3/43, Tafsir Fathul Qodir, Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 7/266,7/365)
2. Mengamalkan rukun Islam yang lima (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 7/365).
3. Istislam (menyerahkan diri) kepada Allah dan melaksanakan perintahnya (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 7/426).
4. Mengikuti risalah Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya dengan melaksanakan yang wajib maupun sunnah, serta meninggalkan larangan-Nya (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 27/63).
5. Membendung perbuatan keji dan mungkar (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 32/122)
6. Mentauhidkan Allah, karena syahadat mengandung tauhid (Madarijus Shalikin 3/475).
7. Keyakinan hati, beramal, dan menyerahkan segala urusan kepada ketentuan Allah sebagaimana Allah mensifati Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dalam Qs. Al-Baqarah: 131,
“Ketika Rabb-Nya berfirman kepadanya ‘aslim (tunduk patuhlah)!’, Ibrahim menjawab, ‘aslamtu lirobbil’alamiin (aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam’.”
8. Islam adalah berserah diri pada Allah dengan tauhid, tunduk dengan ketaatan, serta berlepas diri dari kesyirikan dan ahlinya (Al-Ushul Ats-Tsalatsah, Syaikh Abdul Wahab At-Tamimi).
Masih banyak kita jumpai sebagian dari kaum muslimin yang mengaku Islam hanya sebagai formalitas saja, Islam KTP, seakan-akan hanya dengan bermodalkan KTP Islam saja, mereka yakin akan selamat di hari kiamat kelak. Padahal Islam yang dapat menyelamatkan kita adalah Islam yang meliputi ketiganya, yaitu keyakinan di hati, diucapkan, dan melaksanakan konsekuensinya, seperi yang tersirat dari makna Islam yang telah diuraikan di atas.
Bukti Kebenaran Islam
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya, Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya kamilah yang benar-benar memliharanya.” (Qs. Al-Hijr: 9)
Sedangkan kitab maupun peraturan agama lain tidak pernah terlepas dari perubahan, ini menunjukkan ketidaksempurnaan yang ada pada selain Al-Quran (Islam).
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali-Imran: 19)
“Dan sungguh aku yakin bahwa nabi akhir zaman ini tentu akan keluar, tapi aku tidak mengira bahwa dia itu dari golonganmu (Arab). Andaikata aku mengetahui aku bisa menemuinya, niscaya hal itu kuanggap sebagai sesuatu yang agung. Bila aku berada di sisinya aku akan basuh kedua telapak tangannya, sungguh kerajaannya akan merebut apa yang kumiliki ini.” (HR. Bukhari)
Bukti Kesempurnaan Islam
1. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya,
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs. Al-Maidah: 3)
Turunnya ayat ini menunjukkan telah sempurnanya Islam. Ini menujukkan rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, yang memberikan petunjuk dengan sangat sempurna, sehingga tidak akan tersesat orang yang mau mengambilnya.
2. Islam membahas semua urusan
Islam tidak hanya membahas urusan ibadah dengan Rabb-nya saja, tetapi menyangkut tatanan semua hidup di dunia, seperti muamalah sesama manusia, sesama makhluk yang lain, membahas kesehatan dan penjagaannya, bahkan membahas urusan kebahagiaan di akhirat.
Hal ini dapat dibuktikan dalam kitab hadits dan kitab fiqih, dibahas disana tatanan hidup di dunia, dan upaya untuk menempuh kebahagiaan di akhirat. Salah satu contohnya adalah riwayat dari Salman Al-Farisi radliyallahu ‘anhu, berkata,
“Kami pernah ditanya oleh orang musyrik, ‘Sesungguhnya aku melihat temanmu (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam) mengajarkan bagimu (segala sesuatu) bahkan mengajarkan kepadamu tata cara buang air?’ Lalu Salman menjawab, “Benar, beliau melarang salah satu diantara kami beristinja’ dengan tangan kanan, atau mengahadap kiblat, beliau melarang beristinja’ dengan kotoran binatang atau tulang, beliau bersabda,’ Janganlah salah satu diantara kamu beristinja’ kurang dari tiga batu’.” (HR. Muslim: 386)
3. Islam menolak tata cara ibadah baru
Karena Islam telah sempurna, maka Islam menolak ibadah baru yang berupa penambahan, pengurangan, dan perubahan atau perkara baru, sekalipun bertujuan baik dan dinilai oleh umat sebagai sesuatu hal yang baik. Karena suatu kebaikan tidak dipandang dari penilaian umat (orang banyak), tapi kebaikan adalah berdasarkan syariat, dan kita harus yakin bahwa apa-apa yang telah ditetapkan syariat adalah baik dan telah sempurna, sehingga tidak perlu ditambahi, dikurangi, atau diubah lagi. Barang siapa yang melakukakannya berarti telah mendustai kerasulan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Barangsiapa mengadakan cara baru dalam perkara diin kami, maka tertolak.” (HR. Muslim 2499).
4. Islam untuk semua makhluk
Agama Islam yang dibawa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah agama untuk semua makhluk di penjuru dunia dan berlaku sampai hari kiamat, berbeda dengan agama para rasul sebelumnya yang terbatas waktu dan pemeluknya. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk rahmat bagi semesta alam.” (Qs. Al-Anbiya’: 107)
5. Islam menghapus agama samawi yang lain
Ibnu Kaisan berkata, firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” Menunjukkan semua agama yang dahulu diganti, karena kalimat agama ini jatuh di awal ayat, sedangkan yang akhir sebagi badal (penggantinya) yaitu Islam. Jadi, agama-agama yang awal sudah tidak dipakai lagi, barangsiapa yang masih mengambilnya, dan mengatakan agama lain juga haq (semua agama sama) maka sesungguhnya ia telah mendustakan ayat-ayat Allah dan merupakan kekafiran.
Keistimewaan Islam
1. Islam menghendaki kemudahan
Syariat di dalam Islam sesungguhnya adalah mudah, jika dibandingkan dengan syariat agama yang lain, karena sesungguhnya Islam adalah agama fitrah, dimana ia akan mudah bagi orang-orang yang masih lurus fitrahnya. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Qs. Al-Baqarah: 185)
2. Memerintah menurut kemampuan
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Qs. Al-Baqarah: 286)
Misalnya, orang yang tidak mampu sholat dengan berdiri, boleh dengan duduk, tidak mampu puasa boleh mengganti di hari lain atau membayar fidyah, tidak mampu mengeluarkan zakat, maka dia berhak mendapatkan bagian zakat, dan seterusnya.
3. Tidak ada hukuman bagi orang yang lupa atau tidak tahu
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “(Mereka berdoa),’Ya Rabb kami, jangan engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.’” (Qs. Al-Baqarah: 286)
Kemudahan Islam ini sangat berbeda dengan hukum manusia, jika sudah dikeluarkan ketetapan, tahu atau tidak tahu, jika bersalah, umumnya tiada maaf baginya, atau dimaafkan dengan uang.
4. Islam mengajak umat bersatu
Islam mengajak umat bersatu di atas tali (agama) Allah, yaitu berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman Salafush Shalih, bukan bersatu karena keturunan, bangsa, suku, golongan, dan tempat. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Qs. Ali-Imran: 103)
5. Islam meninjau kemuliaan dari sisi amal
“Sesungguhnya Allah tidak melihat badanmu dan tidak pula penampilanmu, tetapi melihat hatimu dan amalmu.” (HR. Muslim 4650)
6. Islam bukan nama orang dan tempat
Nama Islam bukanlah nama nabi dan tempat, berbeda dengan agama lain, kadangkala diambil dari nama tempat, suku, golongan, nama pendiri, nama orang, misalnya Nasrani, Yahudi, Konghucu, Budha, Jahmiyah.
7. Hukum Islam berlaku untuk pemimpin dan pengikut
Di dalam Islam hukum berlaku untuk semua lapisan umat, tidak ada keringanan untuk pemimpin, atau penindasan untuk rakyat sebagaimana lazimnya peraturan manusia.
“Hai manusia, sesungguhnya tersesatnya orang sebelummu, bila terjadi pencurian di kalangan orang mulia (penguasa) mereka dibiarkan, tapi jika yang mencuri orang yang lemah, mereka laksanakan hukuman. Demi Allah, andaikan Fathimah putri Muhammad mencuri, tentu Muhammad akan memotong tangannya.” (HR. Bukhari 6290)
Sempurnakan Syukurmu akan Islam
Subhanallah, setelah kita mengetahui kebenaran, kesempurnaan, serta keistimewaan Islam, tidak selayaknya kita melalaikan nikmat ini begitu saja. Hendaknya kita mensyukuri nikmat ini dengan sebenar-benarnya syukur, agar Allah tidak mencabut nikmat Islam dari kita. Na’udzubillah. Karena celakalah seseorang di dunia dan akhirat ketika ia keluar dari Islam. Yang kedua kita bersyukur, agar Allah menambahkan nikmat Islam kepada kita. Berupa apa? tentu saja berupa keimanan, penjagaan dan karunia lain dari Allah.
Lalu bagimanakan syukur yang sempurna? Syukur seseorang dianggap sah dengan tiga rukun, dia harus mengakui nikmat Allah di hatinya, menyebut dengan lisannya, dan menggunakannya dalam amalan. Seperti perkataan Ibnu Hazm,
“Orang yang bersyukur dengan lisannya saja tanpa menyertakan anggota badannya, seperti orang yang memiliki banyak pakaian, namun dia hanya memegang bagian ujungnya, tanpa ia kenakan, praktis tidak bermanfaat baginya untuk mengusir hawa dingin dan panas.”
Syukur Islam dengan hati, hendaknya kita meyakini akan kebenaran Islam, tidak mendustakannya. Syukur dengan lisan, hendaknya kita bangga menyatakan keislaman kita, syukur dengan amal perbuatan hendaknya kita melaksanakan konsekuensi-konsekuensi dari Islam, yaitu dengan berserah diri kepada Allah semata, tidak menyekutukannya, tunduk terhadap perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, yang disampaikan melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berlepas diri dari orang-orang kafir (musyrik) yang menyekutukan Allah, tidak menjadikan mereka sebagai wali atau sahabat dekat, serta berlepas diri dari ahlu bid’ah, yang tidak mencukupkan diri dengan apa yang dibawa Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam.
Hendaknya kita tidak menjadi orang munafik, yang menjadikan Islam sebagai sarana untuk mendapatkan dunia, hanya mengambil Islam dari hal-hal yang sekiranya menguntungkan untuk dunia saja, tapi menolak hal-hal yang tidak menguntungkan baginya. Karena Islam adalah satu kesatuan. Islam melazimkan untuk tunduk dan patuh dalam segala hal yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam Qs. Al-Baqarah : 208, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.”
Maraji’ : Al-Furqon, edisi 7 th III/ shofar 1425
***
Artikel muslimah.or.id
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar
Salah satu makar orang kafir adalah hendak menjadikan kaum muslimin berpandangan negatif terhadap agamanya sendiri. Mereka menampakkan Islam ini sebagai agama kuno, agama orang kampung, agama kaum pinggiran, agama orang-orang miskin, agama orang-orang yang mencuri sandal di masjid, agama yang suka kekerasan, agama yang merendahkan kaum wanita, dan berbagai bentuk image buruk lain yang mereka pasangkan dengan agama Islam ini. Sehingga kita dapati, banyak diantara saudara-saudara kita yang merasa malu dengan Islam, tidak menampakkan identitas kemuslimannya, mudah melakukan tasyabuh (peniruan) terhadap orang kafir, tidak bangga dengan Islam, bahkan mereka bangga dengan meniru-niru kebudayaan orang kafir, mereka lebih membanggakan tokoh-tokoh kafir dibandingkan dengan tokoh kaum muslim sendiri.Padahal sesungguhnya Islam merupakan nikmat paling agung yang dikaruniakan Allah tidak kepada semua hambanya. Berbeda dengan nikmat lain, yang berupa makanan atau rizki, Allah berikan kepada semua hamba-Nya, baik manusia (baik kafir ataupun mukmin), binatang, ataupun tumbuhan. Sedangkan Islam hanya diberikan kepada manusia pilihan saja. Jadi, hendaknya kita mensyukuri nikmat Islam ini, agar Allah tidak mencabutnya dari diri kita.
Kita juga sering mendengar ceramah-caramah para dai, mengingatkan agar kita mensyukuri nikmat Islam, yang merupakan nikmat paling besar dari Allah. Tapi, banyak diantara kita yang masih lalai akan nikmat tersebut. Hal ini karena masih banyak diantara kaum muslimin yang belum paham tentang Islam. Sehingga di tengah gencarnya pemurtadan yang dilakukan oleh para misionaris, banyak dari saudara-saudara kita yang belum paham akan nikmat Islam sehingga menjadi mangsa mereka. Padahal, sungguh merupakan kecelakaan yang besar ketika seseorang berpaling dari Islam, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Qs. Al-Baqarah: 217, yang artinya,
“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”
Agar kita bangga dan bersyukur akan nikmat Islam ini hendaknya kita tahu, apa itu Islam, dan apa kelebihan-kelebihannya jika dibandingkan dengan agama lain, sehingga syukur kita ini, tidak hanya di lisan, tapi juga di hati, yaitu berupa keyakinan yang mangakar kuat akan kebenaran Islam, serta dilaksanakan dalam perbuatan-perbutan untuk melaksanakan konsekuensi dari Islam.
Makna Islam
Ulama mengartikan Islam dengan berbagi makna, antara lain:
1. Iman dan tho’at, ini adalah pendapat Abul Aliyah, jumhur ulama (Tafsir Al-Qurthubi 3/43, Tafsir Fathul Qodir, Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 7/266,7/365)
2. Mengamalkan rukun Islam yang lima (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 7/365).
3. Istislam (menyerahkan diri) kepada Allah dan melaksanakan perintahnya (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 7/426).
4. Mengikuti risalah Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya dengan melaksanakan yang wajib maupun sunnah, serta meninggalkan larangan-Nya (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 27/63).
5. Membendung perbuatan keji dan mungkar (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 32/122)
6. Mentauhidkan Allah, karena syahadat mengandung tauhid (Madarijus Shalikin 3/475).
7. Keyakinan hati, beramal, dan menyerahkan segala urusan kepada ketentuan Allah sebagaimana Allah mensifati Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dalam Qs. Al-Baqarah: 131,
“Ketika Rabb-Nya berfirman kepadanya ‘aslim (tunduk patuhlah)!’, Ibrahim menjawab, ‘aslamtu lirobbil’alamiin (aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam’.”
8. Islam adalah berserah diri pada Allah dengan tauhid, tunduk dengan ketaatan, serta berlepas diri dari kesyirikan dan ahlinya (Al-Ushul Ats-Tsalatsah, Syaikh Abdul Wahab At-Tamimi).
Masih banyak kita jumpai sebagian dari kaum muslimin yang mengaku Islam hanya sebagai formalitas saja, Islam KTP, seakan-akan hanya dengan bermodalkan KTP Islam saja, mereka yakin akan selamat di hari kiamat kelak. Padahal Islam yang dapat menyelamatkan kita adalah Islam yang meliputi ketiganya, yaitu keyakinan di hati, diucapkan, dan melaksanakan konsekuensinya, seperi yang tersirat dari makna Islam yang telah diuraikan di atas.
Bukti Kebenaran Islam
1. Peraturan/kitabnya tidak berubah
Kebenarannya dijaga oleh Allah, tidak ada satupun makhluk yang dapat mengubahnya.Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya, Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya kamilah yang benar-benar memliharanya.” (Qs. Al-Hijr: 9)
Sedangkan kitab maupun peraturan agama lain tidak pernah terlepas dari perubahan, ini menunjukkan ketidaksempurnaan yang ada pada selain Al-Quran (Islam).
2. Islam berdasarkan wahyu
Islam bukanlah hasil pemikiran dan karya manusia, bukan penemuan, ataupun hasil musyawarah, ia adalah wahyu dari Allah yang diturunkan kepada utusan-Nya, Rasulullah Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam.Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali-Imran: 19)
3. Islam diakui oleh tokoh Nasrani
Heraklius, raja Romawi, mengakui bahwa Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam, nabi yang menyeru kepada Islam, adalah nabi akhir zaman yang sah berdasar kitab Injil saat itu, seperti dinukil dalam perkataannya,“Dan sungguh aku yakin bahwa nabi akhir zaman ini tentu akan keluar, tapi aku tidak mengira bahwa dia itu dari golonganmu (Arab). Andaikata aku mengetahui aku bisa menemuinya, niscaya hal itu kuanggap sebagai sesuatu yang agung. Bila aku berada di sisinya aku akan basuh kedua telapak tangannya, sungguh kerajaannya akan merebut apa yang kumiliki ini.” (HR. Bukhari)
4. Banyak orang kafir yang masuk Islam
Kebanyakan orang kafir masuk Islam karena mengetahui kebenaran di dalamnya, berbeda dengan orang murtad yang meninggalkan Islam karena kebodohan dan rakus dunia. Mereka adalah orang-orang yang tidak mendapat petunjuk, karena sesungguhnya Islam adalah petunjuk.5. Penukil Islam diabadikan sepanjang masa
Islam yang sampai pada zaman sekarang ini, tidak seperti agama samawi sebelumnya dan tidak seperti agama ciptaan manusia yang tidak ada bukti sanadnya. Tetapi Islam, sampai pada kita dengan sanad yang terpercaya yang dibukukan oleh hadits sepanjang masa. Ini juga merupakan bukti penjagaan Allah terhadap Islam.Bukti Kesempurnaan Islam
1. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya,
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs. Al-Maidah: 3)
Turunnya ayat ini menunjukkan telah sempurnanya Islam. Ini menujukkan rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, yang memberikan petunjuk dengan sangat sempurna, sehingga tidak akan tersesat orang yang mau mengambilnya.
2. Islam membahas semua urusan
Islam tidak hanya membahas urusan ibadah dengan Rabb-nya saja, tetapi menyangkut tatanan semua hidup di dunia, seperti muamalah sesama manusia, sesama makhluk yang lain, membahas kesehatan dan penjagaannya, bahkan membahas urusan kebahagiaan di akhirat.
Hal ini dapat dibuktikan dalam kitab hadits dan kitab fiqih, dibahas disana tatanan hidup di dunia, dan upaya untuk menempuh kebahagiaan di akhirat. Salah satu contohnya adalah riwayat dari Salman Al-Farisi radliyallahu ‘anhu, berkata,
“Kami pernah ditanya oleh orang musyrik, ‘Sesungguhnya aku melihat temanmu (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam) mengajarkan bagimu (segala sesuatu) bahkan mengajarkan kepadamu tata cara buang air?’ Lalu Salman menjawab, “Benar, beliau melarang salah satu diantara kami beristinja’ dengan tangan kanan, atau mengahadap kiblat, beliau melarang beristinja’ dengan kotoran binatang atau tulang, beliau bersabda,’ Janganlah salah satu diantara kamu beristinja’ kurang dari tiga batu’.” (HR. Muslim: 386)
3. Islam menolak tata cara ibadah baru
Karena Islam telah sempurna, maka Islam menolak ibadah baru yang berupa penambahan, pengurangan, dan perubahan atau perkara baru, sekalipun bertujuan baik dan dinilai oleh umat sebagai sesuatu hal yang baik. Karena suatu kebaikan tidak dipandang dari penilaian umat (orang banyak), tapi kebaikan adalah berdasarkan syariat, dan kita harus yakin bahwa apa-apa yang telah ditetapkan syariat adalah baik dan telah sempurna, sehingga tidak perlu ditambahi, dikurangi, atau diubah lagi. Barang siapa yang melakukakannya berarti telah mendustai kerasulan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Barangsiapa mengadakan cara baru dalam perkara diin kami, maka tertolak.” (HR. Muslim 2499).
4. Islam untuk semua makhluk
Agama Islam yang dibawa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah agama untuk semua makhluk di penjuru dunia dan berlaku sampai hari kiamat, berbeda dengan agama para rasul sebelumnya yang terbatas waktu dan pemeluknya. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk rahmat bagi semesta alam.” (Qs. Al-Anbiya’: 107)
5. Islam menghapus agama samawi yang lain
Ibnu Kaisan berkata, firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” Menunjukkan semua agama yang dahulu diganti, karena kalimat agama ini jatuh di awal ayat, sedangkan yang akhir sebagi badal (penggantinya) yaitu Islam. Jadi, agama-agama yang awal sudah tidak dipakai lagi, barangsiapa yang masih mengambilnya, dan mengatakan agama lain juga haq (semua agama sama) maka sesungguhnya ia telah mendustakan ayat-ayat Allah dan merupakan kekafiran.
Keistimewaan Islam
1. Islam menghendaki kemudahan
Syariat di dalam Islam sesungguhnya adalah mudah, jika dibandingkan dengan syariat agama yang lain, karena sesungguhnya Islam adalah agama fitrah, dimana ia akan mudah bagi orang-orang yang masih lurus fitrahnya. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Qs. Al-Baqarah: 185)
2. Memerintah menurut kemampuan
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Qs. Al-Baqarah: 286)
Misalnya, orang yang tidak mampu sholat dengan berdiri, boleh dengan duduk, tidak mampu puasa boleh mengganti di hari lain atau membayar fidyah, tidak mampu mengeluarkan zakat, maka dia berhak mendapatkan bagian zakat, dan seterusnya.
3. Tidak ada hukuman bagi orang yang lupa atau tidak tahu
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “(Mereka berdoa),’Ya Rabb kami, jangan engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.’” (Qs. Al-Baqarah: 286)
Kemudahan Islam ini sangat berbeda dengan hukum manusia, jika sudah dikeluarkan ketetapan, tahu atau tidak tahu, jika bersalah, umumnya tiada maaf baginya, atau dimaafkan dengan uang.
4. Islam mengajak umat bersatu
Islam mengajak umat bersatu di atas tali (agama) Allah, yaitu berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman Salafush Shalih, bukan bersatu karena keturunan, bangsa, suku, golongan, dan tempat. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Qs. Ali-Imran: 103)
5. Islam meninjau kemuliaan dari sisi amal
“Sesungguhnya Allah tidak melihat badanmu dan tidak pula penampilanmu, tetapi melihat hatimu dan amalmu.” (HR. Muslim 4650)
6. Islam bukan nama orang dan tempat
Nama Islam bukanlah nama nabi dan tempat, berbeda dengan agama lain, kadangkala diambil dari nama tempat, suku, golongan, nama pendiri, nama orang, misalnya Nasrani, Yahudi, Konghucu, Budha, Jahmiyah.
7. Hukum Islam berlaku untuk pemimpin dan pengikut
Di dalam Islam hukum berlaku untuk semua lapisan umat, tidak ada keringanan untuk pemimpin, atau penindasan untuk rakyat sebagaimana lazimnya peraturan manusia.
“Hai manusia, sesungguhnya tersesatnya orang sebelummu, bila terjadi pencurian di kalangan orang mulia (penguasa) mereka dibiarkan, tapi jika yang mencuri orang yang lemah, mereka laksanakan hukuman. Demi Allah, andaikan Fathimah putri Muhammad mencuri, tentu Muhammad akan memotong tangannya.” (HR. Bukhari 6290)
Sempurnakan Syukurmu akan Islam
Subhanallah, setelah kita mengetahui kebenaran, kesempurnaan, serta keistimewaan Islam, tidak selayaknya kita melalaikan nikmat ini begitu saja. Hendaknya kita mensyukuri nikmat ini dengan sebenar-benarnya syukur, agar Allah tidak mencabut nikmat Islam dari kita. Na’udzubillah. Karena celakalah seseorang di dunia dan akhirat ketika ia keluar dari Islam. Yang kedua kita bersyukur, agar Allah menambahkan nikmat Islam kepada kita. Berupa apa? tentu saja berupa keimanan, penjagaan dan karunia lain dari Allah.
Lalu bagimanakan syukur yang sempurna? Syukur seseorang dianggap sah dengan tiga rukun, dia harus mengakui nikmat Allah di hatinya, menyebut dengan lisannya, dan menggunakannya dalam amalan. Seperti perkataan Ibnu Hazm,
“Orang yang bersyukur dengan lisannya saja tanpa menyertakan anggota badannya, seperti orang yang memiliki banyak pakaian, namun dia hanya memegang bagian ujungnya, tanpa ia kenakan, praktis tidak bermanfaat baginya untuk mengusir hawa dingin dan panas.”
Syukur Islam dengan hati, hendaknya kita meyakini akan kebenaran Islam, tidak mendustakannya. Syukur dengan lisan, hendaknya kita bangga menyatakan keislaman kita, syukur dengan amal perbuatan hendaknya kita melaksanakan konsekuensi-konsekuensi dari Islam, yaitu dengan berserah diri kepada Allah semata, tidak menyekutukannya, tunduk terhadap perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, yang disampaikan melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berlepas diri dari orang-orang kafir (musyrik) yang menyekutukan Allah, tidak menjadikan mereka sebagai wali atau sahabat dekat, serta berlepas diri dari ahlu bid’ah, yang tidak mencukupkan diri dengan apa yang dibawa Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam.
Hendaknya kita tidak menjadi orang munafik, yang menjadikan Islam sebagai sarana untuk mendapatkan dunia, hanya mengambil Islam dari hal-hal yang sekiranya menguntungkan untuk dunia saja, tapi menolak hal-hal yang tidak menguntungkan baginya. Karena Islam adalah satu kesatuan. Islam melazimkan untuk tunduk dan patuh dalam segala hal yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam Qs. Al-Baqarah : 208, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.”
Maraji’ : Al-Furqon, edisi 7 th III/ shofar 1425
***
Artikel muslimah.or.id
Syeikh as-Sudais: Jangan Tinggalkan Risalah Dakwah
Imam Masjidil Haram ini menekankan pentingnya ilmu dan dakwah bagi kaum muslimin Indonesia. Ilmu adalah senjata yang sangat penting di zaman ini, katanya.
Hidayatullah.com--Imam Besar Masjidil Haram Syeikh Dr. Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudais an-Najdi, dalam kunjungannya ke Kantor Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jakarta, Senin, 28 Desember 2009, menyampaikan pesan kepada kaum muslimin agar tidak meninggalkan risalah dakwah.
Syeikh Abdurrahman As-Sudais menekankan bahwa risalah dakwah adalah sesuatu yang sangat penting yang harus diemban oleh kaum Muslimin. Beliau mengutip firman Allah dalam Al-Qur'an, "Katakanlah, Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam." [QS Al An'aam; 6:162].
Seorang Muslim, lanjut Syeikh Sudais, harus meyakini bahwa hanya Al-Quran as-Sunnah sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan.
"Mari kita menjadikan Al-Quran dan as-Sunnah sebagai sumber amal dan inspirasi kita," kata pria yang suaranya amat dikenal di Indonesia ini, sebagaimana dialihbahasakan dengan baik sekali oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) Ust. H. Muh. Zaitun Rasmin, Lc.
Selain itu, ia juga berpesan kepada kaum Muslimin untuk senantiasa menuntut ilmu. Ilmu yang bermanfaat merupakan senjata yang paling penting yang harus dimiliki kaum muslimin.
"Apalagi di zaman ini yang begitu banyak fitnah dan perselisihan, karena itu kita membutuhkan furqan. Itulah dia ilmu syar'i," ujar dia dalam bahasa Arab.
Dia juga menegaskan, ilmu harus diikuti dengan amal. Sebab ilmu tidak cukup tanpa amal.
Selain itu dia juga menyampaikan bahwa dakwah adalah risalah umat Islam yang utama. Maka dengan ilmulah kaum muslimin dapat melakukan dakwah. Maka, tegas dia, seyogyanyalah kaum muslimin untuk selalu menuntut ilmu dan menyampaikan dakwah.
Sebagaimana diketahui, Syeikh Sudais memiliki suara bacaan Al-Quran yang khas, sehingga hampir semua kaum Muslimin dari seluruh penjuru dunia --khususnya yang pernah menunaikan haji atau umrah-- sangat akrab dengan suaranya. Di Indonesia suaranya dalam bacaan Al-Quran banyak beredar melalui kaset, mp3, dan cd/dvd.
sumber : wahdah.or.id
Hidayatullah.com--Imam Besar Masjidil Haram Syeikh Dr. Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudais an-Najdi, dalam kunjungannya ke Kantor Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jakarta, Senin, 28 Desember 2009, menyampaikan pesan kepada kaum muslimin agar tidak meninggalkan risalah dakwah.
Syeikh Abdurrahman As-Sudais menekankan bahwa risalah dakwah adalah sesuatu yang sangat penting yang harus diemban oleh kaum Muslimin. Beliau mengutip firman Allah dalam Al-Qur'an, "Katakanlah, Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam." [QS Al An'aam; 6:162].
Seorang Muslim, lanjut Syeikh Sudais, harus meyakini bahwa hanya Al-Quran as-Sunnah sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan.
"Mari kita menjadikan Al-Quran dan as-Sunnah sebagai sumber amal dan inspirasi kita," kata pria yang suaranya amat dikenal di Indonesia ini, sebagaimana dialihbahasakan dengan baik sekali oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) Ust. H. Muh. Zaitun Rasmin, Lc.
Selain itu, ia juga berpesan kepada kaum Muslimin untuk senantiasa menuntut ilmu. Ilmu yang bermanfaat merupakan senjata yang paling penting yang harus dimiliki kaum muslimin.
"Apalagi di zaman ini yang begitu banyak fitnah dan perselisihan, karena itu kita membutuhkan furqan. Itulah dia ilmu syar'i," ujar dia dalam bahasa Arab.
Dia juga menegaskan, ilmu harus diikuti dengan amal. Sebab ilmu tidak cukup tanpa amal.
Selain itu dia juga menyampaikan bahwa dakwah adalah risalah umat Islam yang utama. Maka dengan ilmulah kaum muslimin dapat melakukan dakwah. Maka, tegas dia, seyogyanyalah kaum muslimin untuk selalu menuntut ilmu dan menyampaikan dakwah.
Sebagaimana diketahui, Syeikh Sudais memiliki suara bacaan Al-Quran yang khas, sehingga hampir semua kaum Muslimin dari seluruh penjuru dunia --khususnya yang pernah menunaikan haji atau umrah-- sangat akrab dengan suaranya. Di Indonesia suaranya dalam bacaan Al-Quran banyak beredar melalui kaset, mp3, dan cd/dvd.
sumber : wahdah.or.id
Rabu, 23 Desember 2009
SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU’AT (Bagian I)
(mereka berkata…dan kami pun berbicara…)
Muqaddimah :
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحابته ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وبعد
Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), Karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
Dari Abu Barzah radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Wahai orang-orang yang telah beriman dengan lisannya dan belum masuk keimanan itu dalam hatinya, jangan kalian menggibahi kaum muslimin dan jangan mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka, karena barangsiapa yang mencari-cari kesalahan mereka maka Allah akan menampakkan aib mereka walaupun ia melakukannya di dalam rumahnya”. (HR. Abu Dawud. Syaikh Al-Albany rohimahulloh berkata: Hasan Shahih).
FATWA LAJNAH DAIMAH No. 16873, tgl 12-2-1415 H :
Alhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala man la Nabiyya ba’dahu. Amma Ba’du…
Lajnah Tetap untuk Riset Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabiah telah meneliti sebuah pertanyaan yang diajukan pada yang mulia Mufti ‘Am dari penanya bernama Muhammad bin Hasan Alu Dzabyan dan dilanjutkan pada seksi umum Haiah Kibar Ulama dengan no. (3134) tgl 7-7-1414 H.
Pertanyaannya sebagai berikut : “Kita mendengar dan mendapatkan sebagian orang yang mengaku salafiyyah, kesibukan mereka hanyalah menggungjing para ulama dan menuduh mereka sebagai ahlul bid’ah, seakan-akan lisan-lisan mereka diciptakan hanya untuk itu padahal mereka mengaku salafiyyah. Pertanyaan kami, apa sebenarnya yang dimaksud salafussoleh dan apa sikap salafussoleh terhadap kelompok-kelompok Islam yang ada di zaman ini ?? Jazakumulloh ‘anna wal muslimin khoiral jaza sesungguhnya ia maha mendengar do’a.
Setelah diteliti, maka Lajnah Daimah menjawab sebagai berikut :
Jika sesuai dengan apa yang disebutkan, maka menggungjing ulama dan menuduh mereka ahlul bid’ah serta tuduhan keji lainnya tertolak dan bukanlah merupakan jalan para salaf dan orang-orang pilihan dari mereka. Adapun dakwah salaf yang sebenarnya adalah yang mengajak pada Al-Qur’an dan Sunnah di atas jalan para salaf dari kalangan sahabat radhiallahu ‘anhum dan para tabi’in yang mengikuti jalan mereka dengan baik, hikmah, wejangan dan debat yang santun serta berjuang menundukkan jiwa melakukan ketaatan, dan istiqomah di atas prinsip dasar agama, yaitu menyeru pada persatuan dan ta’awun dalam kebaikan, menyatukan pendapat kaum muslimin dalam kebenaran, menjauhkan diri dari perpecahan dan sebab-sebabnya seperti saling membenci dan memusuhi, iri (hasad). Dan hendaknya mereka menjaga kehormatan kaum muslimin serta tidak berprasangka buruk pada mereka dsb yang menjadi sebab perpecahan diantara kaum muslimin dan menjadikan mereka berkelompok-kelompok yang saling melaknat antara yang satu dengan lainnya. Alloh Ta’ala berfirman : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung”.
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”…
Telah shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda : “Janganlah kalian menjadi kafir setelah aku meninggal, sebagian diantara kalian memenggal leher sebagian lainnya…”. Dan sebagainya berupa ayat-ayat serta hadits-hadits yang menjelaskan larangan berpecah belah sangatlah banyak.
Karena itu, memelihara kehormatan kaum muslimin merupakan salah satu diantara prinsip dasar agama Islam yang haram bagi siapapun untuk mencemarkan dan mencelanya. Disamping keharamannya lebih besar jika yang menjadi sasaran adalah para ulama, mengingat manfaat yang mereka berikan pada kaum muslimin sebagaimana kedudukan mereka yang disinggung dalam Al-Qur’an dan Sunnah, diantaranya Alloh Ta’ala menjadikan mereka saksi atas keEsaan-Nya, Alloh berfirman : “Syahidallahu annahu…..”.
Dan bahaya tersebut di atas disebabkan karena merekalah pembawa syari’at. Jika pembawa syari’at dicela maka menjadi sebab tercelanya apa yang mereka bawa. Perbuatan ini mirip dengan sikap ahlul ahwa’ yang menghina serta mencela para sahabat, padahal para sahabat merupakan saksi-saksi dari syari’at yang dibawa oleh Nabi ummat ini. Konsekwensinya, jika saksi dicela maka yang disaksikan juga ikut tercela.
Olehnya, merupakan kewajiban bagi seorang muslim untuk iltizam dengan adab, petunjuk serta syari’at Islam, sembari menjaga lisan-lisan mereka dan tidak menggunjing para ulama. Hendaknya mereka bertaubat dari perbuatan tersebut (mencela kaum muslimin). Jika ternyata terdapat kekeliruan dari seorang alim, maka tidak boleh kekeliruan itu menjadi sebab untuk menjatuhkan sang alim dan kembalilah pada para ulama yang mumpuni keilmuan agama serta keshohihan aqidah mereka. Disamping hendaknya setiap muslim tidak menerima begitu saja segala yang sampai kepadanya berupa perkara yang dapat menggiring dirinya dalam kebinasaan tanpa ia sadari. Dan hanya Allah Ta’ala pemberi taufiq wa shollallahu ‘ala Muhammad wa alihi wa sallam…
Lajnah Daimah
Ketua : Abdul Azis Bin Baz
Abdul Azis bin Abdullah bin Muhammad Alus Syaikh
Abdullah bin Abdurrohman Al-Ghudayyan
Bakr bin Abdillah Abu Zaid
Sholih bin Fauzan Al-Fauzan
Amma Ba’du….
Wallohul musta’an…!!
Saat menelaah beberapa artikel dan menyimak kaset-kaset ceramah yang sarat tuduhan keji pada Wahdah Islamiyah (WI), yang pertama terlontar dari mulut kami adalah kalimat di atas. Memori kami tertarik ke belakang mengingat tuduhan demi tuduhan yang dahulu dibidikkan pada para pengusung dakwah kebenaran dari zaman para Nabi hingga masa sekarang ini. Para Nabi dan Rasul dahulu dituduh dengan aneka macam celaan seperti, tukang sihir, orang gila dan sebagainya. Demikian pula para imam-imam ahlis sunnah, Imam al-Syafi’i rahimahullah pernah dituduh sebagai Rafidhi, demikian pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dituduh sebagai al-Mujassimah, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab sebagai kharijy, dan selain mereka rahimahullah. Seakan tuduhan dan celaan merupakan sunnatullah yang selalu mengiringi dakwah kebenaran yang sengaja dilontarkan oleh mereka yang berusaha menghalangi manusia dari jalan Allah Ta’ala.
Subhanallah…! Bagaimana mereka mempertanggungjawabkan tuduhan-tuduhan keji tersebut baik lewat tulisan, rekaman kaset, bulletin, via internet dsb. Jujur kami bergidik kala mengingat salah satu tafsir-an firman Allah Ta’ala dalam surat Qof ayat 18 : “Tiada suatu ucapan-pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir”.
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “Akan dicatat seluruh yang mereka ucapkan berupa perkataan yang baik dan buruk, hingga ucapan mereka : Saya telah makan, saya telah minum, saya telah pergi, saya telah datang, saya telah melihat…”. [1]
Sebenarnya kami sama sekali tidak berselera menanggapi artikel-artikel dan ceramah-ceramah tersebut. Akan tetapi, lantaran telah lama didiamkan, perbuatan ikhwah-ikhwah kita tersebut semakin hari semakin menjadi. Demikian pula banyaknya tuntutan dari ikhwah mutarabbi khususnya di daerah yang ingin mengklarifikasi tuduhan-tuduhan tersebut. Maka sebagai bentuk tanggung jawab kami kepada Allah Ta’ala dalam hal penyampaian hujjah, maka dalam kesempatan ini, secara berkala kami akan paparkan beberapa hal sebagai tanggapan dari tuduhan keji yang sengaja dilontarkan kepada para asatidzah WI yang selama ini menjadi bulan-bulanan pena dan lisan mereka. Kendati kami sadar, bahwa tuduhan-tuduhan keji tersebut akan menjadi pahala gratis bagi para asatidzah, begitu pula bagi mereka yang terdzolimi. Diriwayatkan bahwa ketika sampai pada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tentang sekelompok orang yang mencela Abu Bakar dan Umar radhiallahu anhuma, ia berkata : “Sesungguhnya Allah enggan kecuali mengalirkan pahala bagi keduanya walaupun keduanya telah meninggal dunia”.
Dan bagi mereka yang mau inshof, tahu dari mana mereka para penuduh mengambil rujukan untuk membangun sebuah vonis hukum bagi WI. Coba simak tulisan-tulisan mereka di internet, diantara tuduhan mereka adalah “WAHDAH ISLAMIYAH TERLIBAT JARINGAN TERORIS”, dan sumber mereka hanyalah nukilan dari koran dan media serta berita-berita intelejen yang seandainya dikembalikan pada ilmu periwayatan hadits, berita yang berasal dari media itu muttaham dapat tertuduh karena syarat adalah-nya tidak terpenuhi [2].
Dan yang lebih hangat lagi, berita yang dinukil dari www.tribun-timur.com yang memaparkan wawancara Ust. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc, bahwa WI siap terjun ke politik praktis pada pemilu 2014 mendatang. Padahal yang shohih[3] wartawan tribun keliru dalam mendengar penjelasan Ust. Muhammad Zaitun. Bahkan sikap WI sangat jelas pada kader-kader yang terjun langsung dalam kancah politik praktis, dengan menon-aktifkan kader tersebut serta tidak dibenarkan sama sekali mengatasnamakan WI dalam politik praktisnya.
Bahkan yang lebih lancang lagi, mereka menuduh WI membolehkan demonstrasi, SUBHANALLOH…! Haatu burhanakum inkuntum shodhiqin…”.!! Berikut kami menukil tulisan yang mereka muat dalam situs mereka www.almakassari.com [4]:
Pertanyaan:
Katanya Salafy melarang demonstrasi, lalu kenapa Wahdah-Salafy melakukannya?
Katanya Salafy melarang demonstrasi, lalu kenapa Wahdah-Salafy melakukannya?
Jawab: Siapa yang mengatakan Wahdah itu Salafy? Sekarang yang mengaku salafy itu banyak, boleh saja semua orang mengaku salafy, tapi belum tentu dia salafy.
Salafy itu bukanlah jubah yang dipakai siapapun yang ingin memakainya kemudian dia katakan bahwa dirinya adalah salafy.
Tidak, tapi salafy adalah sebuah keyakinan yang tergambar, tertanam dalam diri seseorang dan dari amalannya menunjukkan hal tersebut, inilah yang disebut salafy.
Tanggapan:
Dalam sebuah acara dialog di stasiun TV “AL-MAJD” KSA, dengan tema “BERSAMA SAMAHATUL MUFTI” Syaikh Abdul Azis Alu Syaikh hafidzahulloh,[5] beliau ditanya: “Apakah boleh seseorang mengaku saya salafy dan selainnya tidak ??
Beliau menjawab: Wahai saudaraku, Allah Ta’ala berfirman :“…Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa”. (An-Najm : Ayat 32). Seorang itu diukur bukan sekedar dengan pengakuannya dan intisabnya akan tetapi dengan apa yang sebenarnya. Keimanan itu bukan sekedar perhiasan dan angan-angan, akan tetapi apa yang terpatri dalam hati dan dibuktikan dengan amalan. As-Salafiyah yang hakiki adalah mereka yang mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berjalan di atas jejak para salaf dari kalangan sahabat dan para tabiin yang mengikuti mereka dengan baik. Seorang muslim adalah yang yakin dengan agamanya dan tidak boleh baginya memberi gelar dengan selain Islam. Adapun perkataan seseorang, saya ‘salafy’, saya salafy ini dan saya salafy itu, maka gelar-gelar seperti ini merupakan pujian bagi diri sendiri, dan ini adalah sesuatu yang tidak pantas, sebab semestinya yang menjadi bukti adalah amalan. Adapun jika sekedar pengakuan dan pernyataan bahwa saya telah mendapat pujian dari fulan (atau tazkiyah) dari fulan, maka ini sama sekali tidak bermanfaat baginya. Tidak ada yang bermanfaat bagi anda kecuali amalan anda, keistiqomahan serta manhaj anda yang benar. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya inilah jalanku, maka ikutilah dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan yang lain yang menjadikan kalian berpecah-belah dari jalanNya”.[6] Sedangkan pernyataan mereka bahwa yang selain manhaj mereka bukan ‘salafy’, maka ia membutuhkan dalil. Boleh jadi orang yang menyelisihinya itu lebih afdal (utama) darinya atau sama atau lebih baik darinya. Adapun perkataan mereka, bahwa siapa yang menyelisihi kami dan manhaj kami maka ia bukan salafy, maka jika seandainya memang menyelisihi kebenaran, maka kita katakan ‘ia’, namun jika hanya sekedar pengakuan maka kita tidak menerimanya. Yang kita inginkan dari seluruh ikhwah dimana-pun mereka berada agar menjadikan tujuan utama mereka adalah keikhlasan dalam beramal karena Allah, menasehati ummat dan berusaha menyelamatkan mereka (ummat) dari kegelapan kejahilan dan kesesatan. Disamping menanggalkan sikap berbangga-bangga pada kelompok dan tampil beda yang dengannya ia menyelisihi saudaranya yang lain. Kita semua adalah muslim yang satu, “Dialah yang menamai kalian Muslimin sebelumnya”[7], adapun pembagian-pembagian, ini salafy lama dan ini salafy baru, ini salafy isiqomah dan ini bukan salafy istiqomah, maka pembagian-pembagian semacam ini adalah sesuatu yang tidak boleh didukung”.
Pembawa acara : “Ya Syaikh, bagaimana dengan gelar-gelar yang disematkan secara khusus pada sebagian kaum muslimin?
Syaikh Mufti : “Hendaknya kita menjauhkan diri dari menghukum secara personal, dan acara ini bukan tempat untuk saya memuji atau mencela fulan. Tujuan utama kita adalah manhaj dan jalan. Adapun berbicara tentang fulan dan fulan, boleh saja hari ini benar dan besok salah, sebab ini tabi’at manusia, sebagaimana dikatakan: “seseorang dikenal dengan kebenaran (yang ia perjuangkan), sedang kebenaran tidak dikenal dengan orang per-orang”. Kebenaran adalah sesuatu yang pasti, adapun seseorang bisa sesuai dengan yang haq dan bisa pula menyelisihinya”.
Perlu diperhatikan, kami tidak mengingkari secara mutlak kebolehan ber-intisab kepada manhaj salaf dengan memperindah nama kita melalui bubuhan kalimat as-salafy atau al-atsary di belakangnya, karena telah jelas perkataan ulama tentang hal ini. Yang kami ingkari adalah jika ternyata tidak ada korelasi antara intisab kita terhadap manhaj salaf dengan realita diri, baik dalam hal aqidah, ibadah, mu’amalah ataupun akhlaq. Sebab, ibroh terpenting adalah ketetapan kita terhadap manhaj yang shohih ini, dan bukan sekedar intisab (baca: pengakuan) seperti kata Mufti ‘Aam di atas. Dan yang lebih berbahaya dari semua itu, tercemarnya manhaj salaf yang mulia ini lantaran perbuatan sebagian mudda’i bis salafiyah (baca:peng-klaim) yang menghabiskan waktu dan tenaganya untuk menghujat dan mencerca para du’at dengan celaan dan tikaman yang jauh lebih menyakitkan dari tikaman keris. Lalu menyelubungi kenistaan tersebut dengan dalih nasehat bagi umat dari laten khawarij (itupun jika tuduhannya benar), padahal umat yang di nasehati masih jauh tenggelam dalam kesyirikan, meninggalkan shalat dan puasa serta dosa-dosa besar lainnya yang jelas saja keadaannya jauh lebih buruk dari para du’at yang dicela, ma lakum kaifa tahkumun??. Hingga berindikasi munculnya stigma buruk tentang manhaj yang yang ini di tengah kaum muslimin, wallohu musta’an.
Satu hal yang barangkali banyak diantara kita, para du’at salafiyah tidak menyadarinya, bahwa gelar-gelar apapun yang tersemat pada diri kita, kendati gelar tersebut merupakan gelar syar’i (yang diakui oleh Syara’) namun jika ia digunakan untuk mengadakan perpecahan di kalangan umat Islam, maka ia dikategorikan sebagai gelar (sebutan) jahiliyah yang tercela.
Fadhilatus Syaikh Dr. Abdullah al-Ghunaiman -mantan guru besar Universitas Islam Madinah-, dalam tulisan beliau yang berjudul “al-Hawa wa Atsaruhu fi al-Khilaf“, menyatakan: “Kendati penyebutan “salafy” ada atsar yang menopangnya, dalam arti orang yang mengikuti jalan para shahabat, namun jika ia digunakan untuk tujuan ta’asshub atau fanatik terhadap satu kelompok tertentu, maka ia dibenci oleh syari’at.
Beliau melanjutkan: “Disebutkan dalam sirah pada salah satu perang Nabi shallallahu alaihi wasallam, terjadi sengketa antara dua orang pemuda, yang satu berasal dari golongan Muhajirin dan lainnya dari golongan Anshar. Lalu pemuda Muhajirin itu berseru: “Wahai Kaum Muhajirin!!”, sang pemuda Anshar-pun berteriak: “Wahai kaum Anshar!!”. Mendengar hal tersebut, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersegera keluar seraya berkata: “Ada apa ini, (ini adalah) seruan ahli Jahiliyah!!, tinggalkanlah, sebab ia tercela”.[8] Padahal, kedua nama ini (yakni Muhajirin dan Anshar) disebutkan dalam al-Qur’an, dan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi, tatkala ia digunakan untuk tujuan ta’asshub, maka ia menjadi sebuah perbuatan jahiliyah. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa seruan ini tercela sebab ia mengajak pada perpecahan dan perselisihan.
Demikian pula yang terjadi pada diri Salman al-Farisi saat perang Uhud ketika melempar salah seorang dari kaum musyrikin seraya berseru lantang: “Rasakan, Aku ini farisy (orang Persia)”. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda padanya: “Katakanlah, dan saya seorang muslim!”.[9]
Adapun wahdah-islamiyah mereka jauh dari penamaan salafiyah. Tidak ada orang-orang salafy yang melakukan demonstrasi.
Tanggapan :
Bisakah antum menyebutkan kapan WI berdemonstrasi?!! Bahkan kalau mau jujur, ustadz-ustadz salafy dahulu-lah yang kemudian terjebak dalam perbuatan demonstrasi. Masih segar dalam ingatan kita, beberapa tahun silam, peristiwa “demonstrasi” yang digerakkan panglima Laskar Jihad Ust. Ja’far Umar Thalib di Senayan lalu berlanjut di depan Istana Negara yang kala itu dihuni oleh presiden Abdur Rahman Wahid. Saat itu disamping sebagai panglima Ust. Ja’far merupakan tokoh sentral “salafy”. Perlu antum ingat, bahwa saat itu ustadz-ustadz salafy antum tergabung dalam pasukan Laskar Jihad pimpinan Ust. Ja’far Umar Thalib, dan tidak ada yang mengingkari perbuatan tersebut. Bahkan istilah “demonstrasi” berusaha ditalbis dengan istilah Ust. Ja’far, “Idzhar al-Quwwah“. Ala kulli hal, kata Idzhar juga merupakan pecahan dari kata mudzaharah[10], dan subtansinya sama. Parahnya, demonstrasi ala ustadz-ustadz salafy ini tidak cukup hanya dengan kepalan tangan, namun harus keluar sambil menghunus senjata-senjata tajam. Duh, sepanjang pengetahuan kami, demo-demo yang dilakukan oleh IM atau Hizbut Tahrir di tanah air (terlepas dari keliru tidaknya), yang selama ini dicela dan disesatkan oleh kalangan salafy, belum pernah sekali-pun terdengar mereka keluar sambil menghunus senjata tajam dan makian keji pada penguasa (semoga ustadz-ustadz salafy yang terlibat telah bertobat kepada Allah Ta’ala).
Kemudian tidak ada dari kalangan salafiyun yang membolehkan bai’at, mereka (wahdah) mempunyai bai’at.
Tanggapan : Kami tidak tahu dari mana antum membangun tuduhan keji di atas. Silahkan tanya kepada ikhwah-ikhwah yang telah terpengaruh dengan syubhat antum, apakah mereka pernah di bai’at ketika aktif di kajian wahdah?? Hatuu burhanakum in kuntum shodiqin !!.
Tidak ada dari kalangan salafiyun yang membagi tauhid menjadi 4, salah satunya tauhid Hakimiyah
Tanggapan :
Alhamdulillah, di WI baik pada ta’lim dan tarbiyah yang diajarkan adalah pembagian tauhid menjadi 3 sebagaimana yang disebutkan para salaf. Adapun yang mereka tuduhkan itu, mungkin saja pernah disebutkan oleh salah satu dari kalangan asatidzah WI. Akan tetapi, orang yang inshof tentu tidak menghukumi sesuatu secara mutlak. Dan kalaupun demikian adanya, maka kami ingin bertanya: “Apakah ketika ada yang membagi tauhid menjadi empat yang merupakan hasil ‘istiqro’ mereka, lantas kita bid’ahkan?”. Kalau demikian, maka antum pun telah membid’ahkan Imam Ibnul Qoyyim yang membagi tauhid menjadi dua!!.
Perlu diketahui, pembagian itu ada dua. Pertama, pembagian yang sifatnya syar’i/ta’abbudi, Kedua, pembagian yang sifatnya istiqro-i/fanni. Pembagian jenis pertama adalah pembagian yang berasal dari syariat, baik dari alqur’an maupun as-Sunnah, contohnya adalah pembagian rukun islam atau rukun iman. Untuk jenis ini, kita harus menerima secara bulat tanpa menambah atau menguranginya. Bahkan orang yang lancang menambah dan menguranginya bisa jatuh dalam kekufuran. Adapun jenis kedua, sumbernya adalah penelitian dan pengkajian terhadap nash-nash al-Qur-an dan as-Sunnah. Tidak ada nash khusus yang menjelaskan pembagian itu. Olehnya untuk jenis ini terdapat keluasan padanya, contohnya adalah pembagian tauhid di atas. Tidak ada nash dari al-Qur’an ataupun as-Sunnah yang mengatakan tauhid itu terbagi menjadi 3. Namun pengkajian yang di lakukan ulama dari al-Qur’an dan as-Sunnah membawa kepada kesimpulan, bahwa tauhid terbagi menjadi 3 dan ada juga yang membagi menjadi 2. Contoh pada kasus lain adalah pembagian syirik. Ada yang membagi syirik menjadi 2 dan ada pula yang membaginya menjadi 3. Penyelisihan kita terhadap pembagian jenis ini lebih ringan dari pembagian yang pertama. Bahkan kita tidak sampai keluar dari manhaj salaf dengan penyelisihan terhadap pembagian jenis ini, wallahu a’lam.[11]
Dan tidak ada dari kalangan salafiyun yang memperbolehkan berbilangnya jama’ah islamiyah seperti yang dilakukan oleh orang-orang wahdah
Tanggapan :.
Kami memohon kepada Allah Rabbul ‘Alamin, semoga dakwah yang diusung WI bisa menjadi tonggak pemersatu ummat, sebagaimana namanya (Amin ya Robb). Justru kami khawatir sikap dan perangai antum yang jauh dari kesantunan dan senang menebar fitnah dan dusta yang akan memicu perpecahan ummat ini (wal ‘iyadzubillah).
Dan tidak ada dari salafiyun yang membela Ahlul Bid’ah.
Tanggapan :
Permasalahan pertama, kriteria ahli bid’ah versi “salafy” yang begitu rancu. Sebab hal ini dibangun di atas penerapan kaidah bid’ah yang rancu pula. Akibatnya, penyematan gelar ahli bid’ah terkesan serampangan, dan tertuju pada orang-orang yang tidak semestinya. Kedua, kalau tokh anggapan mereka kaum “salafy” itu benar bahwa tokoh-tokoh yang mereka cap sebagai ahli bid’ah, maka sebenarnya WI bukan membela ahlul bid’ah (menurut anggapan salafy), Ma’adzalLoh..!! tetapi WI cuma membela orang-orang yang terdzolimi dari kalangan para duat dan ulama yang menjadi bulan-bulanan celaan antum seperti Sayyid Qutb, Hasan Al-Banna, Syaikh Safar al-Hawali, Syaikh Salman, Syaikh ‘Aidh al-Qarni, hafidzahumulloh al-ahya wa rahimal amwat minhum, yang sebelumnya telah dibela dengan tegas oleh ulama kibar seperti Syaikh Bin Baz, Ibnu Utsaimin, Al-Albani, Syaikh Abdul Muhsin, Syaikh al-Jibrin, Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahumullLoh wa hafidzollohul ‘ahya.[12]
Dan tidak ada dari salafiyun yang memunculkan manhaj muwazanah. Ini sebagian kerusakan orang-orang wahdah islamiyah.
Tanggapan :
Masalah jarh dan ta’dil sebenarnya adalah bukan masalah sepele. Jika dipegang oleh para thuwailib ‘ilmi maka akan menjadi musibah, apalagi jika ditambah dengan sedikitnya sifat wara’ dan ketakwaan pada Allah. Imam Ad-Dzahabi –rahimahulloh- berkata : “Membicarakan para ulama membutuhkan keadilan dan ketakwaan” [13]. Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an: “Janganlah disebabkan kebencianmu pada satu kaum membuat kalian tidak berlaku adil, adillah karena itu lebih dekat dengan ketakwaan”. (Al-Maidah : 8).
Dan masih perkataan Adz-Dzahabi rahimahulloh ketika menyebutkan biografi Al-Hafidz Muhammad bin Nashr : “Seandainya setiap kali seorang imam keliru dalam ijtihadnya pada satu masalah yang bisa dimaafkan serta merta kita mencela, membid’ahkannya dan memboikotnya, maka tak akan selamat dari kita Ibnu Nashr dan Ibnu Mandah, bahkan yang lebih senior dari mereka berdua. Dan hanya Allah yang memberi petunjuk pada jalan yang lurus dan kita berlindung dari hawa nafsu dan tutur kata yang kasar”.[14]
Sa’id bin Musayyib (seorang tabi’in) pernah berkata : “Tidak ada seorang alim atau yang mulia dan memiliki keutamaan melainkan ia memiliki cacat (aib). Akan tetapi barang siapa kebaikannya lebih banyak dari kekurangannya, maka akan pergi kekurangan tersebut dan tertutupi oleh kelebihannya”.[15]
Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu pernah berkata: “Janganlah setiap ada kalimat salah yang keluar dari mulut saudara kalian, membuat kalian lantas berprasangka buruk jika masih bisa berprasangka baik dan memberinya alasan (kemungkinan-kemungkinan baik) dari perkataannya itu”.[16]
Berkata Abu Robi’ Muhammad bin Al-Fadl Al-Balkhy : Saya mendengar Abu Bakr Muhammad bin Mahrawaih berkata: Saya mendengar Ali bin Husain bin Al-Junaid berkata: Saya mendengar Yahya bin Ma’in berkata: “Sesungguhnya kita mencela sebagian kaum yang boleh jadi mereka telah meniti langkah-langkah kaki mereka ke surga sejak lebih 200 tahun yang lalu..!!! berkata Abu Bakr Muhammad bin Mahrawaih: “Saya masuk menemui Abdur Rahman bin Abi Hatim yang saat itu sementara membaca buku jarh dan ta’dil, lalu menyampaikan perkataan Yahya tersebut. Beliau kemudian menangis dan tangan beliau bergetar hingga buku itu berserakan jatuh”.
Dan khusus dengan manhaj Muwazanah, maka WI tidak pernah mengatakan bahwa hal itu merupakan sesuatu yang wajib. Akan tetapi penerapannya kembali pada setiap person. Jika seseorang nyata dalam kebid’ahan dan kesesatannya bahkan menyeru kepada kebid’ahannya, maka kita mentahdzir ummat dari mereka seperti kelompok syi’ah, JIL, Islam Jama’ah, Sufiah, ahmadiyah dan sebagainya. Adapun jika seseorang terkenal dengan keistiqomahannya serta berdakwah menyeru kepada tauhid dan melarang dari kebid’ahan, maka hendaknya kita tidak mendzolimi mereka hanya disebabkan ketergelincirannya, bahkan kebaikannya akan menutupi kekurangannya tersebut. Tentunya nasehat dengan baik dan hikmah tetap dilakukan dan bukan dengan menyingkap aib mereka serta mencerca dengan tuduhan keji.
Anehnya, kendati ikhwah-ikhwah kita ini mengaku mengikuti jalan dakwah salafiyah yang dibawa oleh para imam ahlu sunnah, namun ketika ada sikap dan pendapat para imam yang bertentangan dengan hawa nafsu mereka otomatis perbuatan imam tersebut ditolak begitu saja. Termasuk diantaranya masalah muwazanah tersebut. Padahal metode ini telah diterapkan bahkan disebutkan secara jelas oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa:
“Terkadang, seseorang dipuji karena meninggalkan sebagian perbuatan dosa berupa bid’ah dan asusila. Akan tetapi, sekalipun demikian kadang tercabut apa yang dipuji oleh selainnya meskipun dia tetap melakukan sebagian perbuatan baik yang sesuai dengan sunnah. Maka inilah metode muwazanah dan keadilan. Barangsiapa yang menapakinya, maka ia telah menegakkan keadilan yang Allah Ta’ala turunkan padanya Kitab dan mizan”.[17]
Sebagai contoh dari apa yang kami katakan, penerapan prinsip tersebut oleh para ulama Robbani:
- Ketika Syaikh Al-Albany ditanya tentang Sayyid Qutb, beliau menjawab: “Kami yakin bahwa Sayyid Qutub –rahimahullah- tidaklah bermanhaj salafy pada sebagian besar dari fase kehidupannya. Akan tetapi nampak pada dirinya kecondongan yang begitu kuat kepada Manhaj Salafy pada akhir-akhir kehidupannya saat ia mendekam di dalam penjara. Salafiyah bukan hanya sekedar pengakuan, akan tetapi yang dituntut padanya adalah pengetahuan akan al-kitab, Sunnah Sahihah dan atsar salafiyah….”.[18]
Dan dalam muqoddimah buku beliau ‘ghoyatul maram’ yang mentakhrij hadits-hadits dalam buku ‘al-halal-wal haram’[19] tulisan DR. Yusuf Qordhowy, beliau juga menerapkan manhaj ini..
- Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid al-Halaby al-Atsary, murid senior Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam buku beliau “Ilmu Ushul al-Bida’”, menukil perkataan Syaikh Dr. Yusuf al-Qardhawi kala menjelaskan Kaidah Pertama pada hal. 69.
- Dalam risalah magisternya, Syaikh Fauzan hafidzahulloh dibawah bimbingan Syekh Abdurrozzaq ‘Afify yang berjudul “At-Tahqiqot Al-Mardhiyyah fil Masail al-fardhiyyah”, beliau menjadikan tafsir “Dzilal” Sayyid Qutb rahimahulloh sebagai salah satu referensi.
- Mufti Kerajaan Saudi Arabiyah, Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh -hafidzahullah- berkata: “Kitab tafsir Fi Dzilal al-Qur’an” (buah karya Sayyid Qutb rahimahulloh), adalah kitab yang bermanfaat. Penulisnya menuliskannya agar al-Qur’an ini dijadikan sebagai undang-undang kehidupan. Kitab ini bukanlah tafsir dalam arti kata harfiyah, tetapi penulisnya banyak menampilkan ayat-ayat al-Qur’an yang dibutuhkan oleh seorang muslim dalam hidupnya…Di sana ada orang yang mengkritik sebagian istilah yang terdapat dalam kitab ini. Namun, sesungguhnya hal-hal yang dianggap kesalahan ini adalah dikarenakan indahnya perkataan Sayyid Qutb dan tingginya gaya bahasa yang beliau pergunakan di atas gaya bahasa pembacanya. Inilah sebetulnya yang tidak dipahami oleh sebagian orang yang mengkritiknya. Kalau saja mereka mau menyelaminya lebih dalam dan mengulangi bacaannya, sungguh akan jelas bagi mereka kesalahan mereka, dan kebenaran Sayyid Qutb”.[20]
SUBHANALLOH….!! Ya Alloh selamatkanlah kami…. !!!
Kalau mengaku boleh saja mereka mengaku, dan perlu saya beritahu, pengakuannya kalau mereka mengatakan salafy itu ujung-ujungnya adalah duit. Dan saya sangat kenal akan perbuatan mereka. Mereka punya camp pelatihan di Philiphina, kemudian yang melakukan pengeboman di Makassar adalah kebanyakan orang-orang yang ikut pengajian mereka, maka ini jauh dari penamaan salafiyah.
Tapi kalau untuk mendatangkan orang-orang dari luar, misalnya Saudi, (mereka mengatakan) “Kami Salafy, ayo ajarkan Tauhid kepada kami”
Begitulah seruannya “ajarkan tauhid kepada kami”, tapi ustadz2nya sendiri…., coba antum cari ceramah-ceramahnya yang mengajarkan tauhid, mungkin kalau mengajarkan, mengajarkan tapi tidak tergambar bahwa mereka punya perhatian khusus terhadap tauhid.
Na’am, kemudian mendatangkan ulama-ulama dari Saudi, tapi kalau berbicara di kaset membicarakan pemerintahan Saudi dengan pembicaraan yang sangat keji dan tidak pantas. Kalau ada duit bicaranya bagus, tapi kalau tidak ada duit bicaranya mencela dan menjelekkan
Tanggapan :
Inna lillahi wa inna ilaihi Rojiun..”Ya Allah jika tuduhan mereka pada kami itu benar maka ampunilah kami, namun jika tuduhan itu dusta, maka nampakkan pada kami kekekuasaan-Mu atas mereka”.
Ketahuilah wahai pembaca budiman…, kami bersumpah atas nama Allah, bahwa perkataan-perkataan mereka adalah kedustaan dan kejahilan nyata kepada WI yang hanya didasarkan atas prasangka, Wallohi…!! Pengakuan mereka sebagai salafy (yang mengikuti jalan para salafussalih) hanyalah seperti perkataan orang Arab: “Betapa banyak orang mengaku memiliki hubungan dengan Laila, namun Laila tidak mengakui hubungan-hubungan mereka”…silahkan para pembaca melihat kata-kata dan tuduhan mereka yang keji, sungguh mereka telah merusak citra kaum salaf itu sendiri.
Bukti kebohongan dalam poin ini begitu banyak, diantaranya bahwa pengakuan WI sebagai salafy karena ujung-ujungnya duit…dan diulang lagi pada akhir paragraf: “Kalau ada duit bicaranya bagus, tapi kalau tidak ada duit bicaranya mencela dan menjelekkan”. Parahnya, pernyataan ini dikukuhkan dengan sebuah penegasan: “Dan saya sangat kenal akan perbuatan mereka”. Kami katakan, bahwa ini merupakan satu kedustaan dan pelecehan terhadap harga diri seorang muslim. Siapakah yang anda sangat kenal dari asatidzah atau kader WI itu, yang hanya berbicara bagus jika ada duit lalu mencela jika tidak diberi duit??? Subhanallah hadza buhtanun Adzim.!!!!
Tidak puas sampai disitu, kebohongan dan tuduhan serta upaya merusak nama baik dilanjutkan dengan ucapan batil yang indikasinya sangat buruk. Perhatikan ucapan diatas: “kemudian yang melakukan pengeboman di Makassar adalah kebanyakan orang-orang yang ikut pengajian mereka“. Subhanallah… ini merupakan perkataan sesat yang berusaha menggiring opini publik bersangka buruk dan menarik kesimpulan bahwa WI adalah jama’ah teroris…kami tidak hendak menuduh. Namun dalam tulisan-tulisan lainnya ternyata tuduhan secara tidak langsung ini telah berubah menjadi tuduhan langsung berdasar berita-berita koran yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Yang dapat kami katakan, bahwa ucapan ini merupakan perkataan batil lantaran hanya dilandasi hawa nafsu. Sebab indikasinya, bisa pula melebar pada ulama-ulama Rabbani lainnya. Sebagai contoh dari konsekwensi buruk ucapan batil ini, tatkala mereka menuduh Syaikh Dr. Safar al-Hawali dan Syaikh Salman al-Audah sebagai ahli bid’ah, bahkan sebagai teroris (oleh ustadz salafy Lukman Ba’abduh), apakah kemudian kita akan melemparkan tuduhan yang sama kepada Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baz, dan juga Syekh Muhammad Al-Amin As-Syinqity rahimahulloh ??[21] sebab keduanya merupakan murid-murid beliau yang banyak duduk di majelis beliau untuk menimba ilmu darinya bahkan Syaikh bin Baz telah memberi tazkiyah pada mereka berdua. Ma’adzallah….Demikian pula guru-guru para asatidzah WI selama di Universitas Islam Madinah al-Munawwarah, apakah mereka juga antum tuduh sebagai teroris lantaran murid-muridnya di Makassar (menurut tuduhan dusta antum terlibat) jaringan teroris??? Sekali lagi ini merupakan ucapan batil. Dan yang lebih parah lagi, ternyata pelaku-pelaku teror di tanah air banyak melakukan kajian-kajian terhadap buku-buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Kenyataan ini, jika memakai kacamata dan ucapan keji di atas, maka akan berindikasi kita-pun melemparkan tuduhan teroris pada kedua ulama Ahli Sunnah di atas. Ma’adzallah.
Karenanya, sangat naif jika kita terlalu tergesa jika mengambil kesimpulan hanya lantaran perbuatan satu oknum. Apalagi oktum tersebut secara struktural tidak terdaftar dalam jajaran pengurus bahkan kader WI. Tuduhan antum bisa diterima jika ternyata seluruh kader WI yang jumlahnya kurang lebih 15 ribu orang bersikap dan berprilaku sama. Akan tetapi dari sekian puluh ribu yang kami disebutkan, hanya ada satu atau dua orang yang antum klaim sering mengikuti pengajian WI yang terlibat. Apalagi sikap WI terhadap jaringan Teroris sangat tegas, bahwa hal tersebut merupakan satu kekeliruan dan bukan merupakan manhaj yang benar. Olehnya, sekali lagi kami nasehatkan antum, hati-hati dan jaga lisan antum dari mengucapkan satu kata fitnah dan dusta. Sebab, serapi-rapi antum sembunyikan fitnah dan dusta, suatu saat bakal tercium juga.!!!
Edisi 1 Dzulhijjah 1430 H
Bersambung InsyaAllah…
[1]. Lihat tafsir Ibnu Katsir.
[2].‘Adalah artinya kelurusan seorang perawi dan tidak memiliki kecacatan sampai dari sisi muru’ah/estetika. Dan media seperti itu, bagaimana mungkin kita menerima begitu saja setiap berita darinya yang sarat percampuraduan antara yang hak dan batil tanpa tabayun ??!!.
Pembaca budiman, tengoklah buku “Mereka Adalah Teroris”, karya Ust. Lukman Ba’abduh yang amat dipuji oleh kalangan “Salafy”, termasuk dalam tulisan al-akh Sofyan Khalid –hadahulloh- yang berjudul “Mengapa Saya Keluar dari Wahdah Islamiyah”, kala menghujat Fadhilatus Syaikh Dr. Safar bin Abdur Rahman al-Hawali berkaitan dengan karya beliau “Wa’du Kissinger” yang membongkar skenario dan konspirasi AS di Timur Tengah, dengan perkataannya: “…Kesimpulan ini dia ambil dari sumber-sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kemudian dengan jiwa dan emosi kekanak-kanakan dia menyimpulkan dan menyikapi berita tersebut….”. (Lihat: Mereka Adalah Teroris, h. 384). Nah, tatkala perbuatan yang sama mereka lakukan, yakni hanya asal comot dari berita-berita koran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, tidak ada komentar yang mengatakan: “Bahwa kaum salafy makassar menyimpulkan berdasarkan emosi dan kekanak-kanakan”. Kami Khawatir bahwa ini merupakan buah dari sebuah kaidah yang berlaku dikalangan kawan-kawan salafy kita: “Bagi kami boleh dan bagi kalian tidak boleh”, Wallahu al-Musta’an.
[3]. Dan berita tersebut langsung diklarifikasi oleh Koran Tribun pada edisi berikutnya. Alhamdulillah.
[4]. Situs ini merupakan salah satu situs yang getol menyebar fitnah dan hujatan khususnya pada Wahdah Islamiyah. Silahkan baca artikel-artikel yang termuat di dalamnya beserta bumbu-bumbu komentar dari pembacanya, Anda akan mengetahui hakikat sebenarnya !! Dan yang paling aneh, katanya untuk mencari kebenaran, namun kenyataannya telah berulang kali kami, bahkan ikhwah-ikhwah WI lainnya berusaha mengirimkan tanggapan balik secara langsung pada situs ini, namun sekali-pun tidak pernah dimuat. Kami khawatir jangan sampai situs ini memang sengaja dibuat hanya untuk menebar fitnah dalam barisan kaum muslimin. Wallahu al-Musta’an.
[5] Video rekamannya kami miliki namun kami mohon maaf belum sempat kami posting lewat situs ini dan akan kami usahakan pada tulisan-tulisan berikutnya, begitu pula audio dan video lainnya yang berhubungan dengan topic ini.
[6] . Q.S. Yusuf : 108.
[7] . Kutipan dari firman Allah Ta’ala pada surah al-Hajj : 78. (Pentrj).
[8] . HR. Muslim, Kitab al-Birr, wa al-Shilah, wa al-Adab, Bab Nasru al-Akh Dzaliman au Madzulaman.
[9] . Dan semisalnya seperti dalam riwayat Abu Daud, Kitab al-Adab, Bab Fi al-Ashabiyah.
[10] Demonstrasi dalam istlah arab dikenal dengan ‘Mudzoharorh’
[11] . Keterangan ini disampaikan oleh akhuna salah seorang asatidzah kami, Alumnus Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah thn ajaran 1429 H – mengutip penjelasan Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin ‘Amir Al-Ruhaili, Dosen Fakultas Da’wah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah ketika mengajar beliau mata pelajaran Tauhid thn kedua. Uniknya, penjelasan ini terkait dengan pertanyaan yang dilontarkan kepada beliau berkaitan dengan Tauhid Hakimiyah dari seorang mahasiswa asal kuwait, yakni al–akh al-fadhil Faisol sayid. Beliau berani bersumpah, bahwa keterangan tersebut beliau dengar langsung dari Samahatus Syaikh).
[12] Kami memiliki data akurat baik tulisan maupun rekaman dari apa yang kami sebutkan diatas..dan pada tulisan berikutnya kami akan menukil fatwa serta pembelaan para ulama kibar pada masyayekh dan du’at tersebut diatas dengan audio serta tulisan yang kami terjemahkan..
[13] Siyar A’lam nubala (8/448)
[14] Siyar A’lam Nubala (14/40)
[15] Diriwayatkan oleh Al-khotib fil Kifayah (hal.79), At-Tamhid (11/170), Sifatus Shofwah (2/81).
[16] Diriwayatkan oleh Al-Muhamily fi Amaalyh (460), Al-Baihaqy fi Syi’ab (324-6/323).
[17] . Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, X/366. Program al-Maktabah al-Syamilah, vol. 3.3.
[18] . Lihat: Duruus li al-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, VII/7, Program al-Maktabah al-Syamilah, vol. 3.3.
[19] Yang diplesetkan oleh sebagian ikhwah ‘halal wal halal’ dan bukan ‘halal wal haram’
[20] . Http://www.alqlm.com/index.cfm?method=home.con&Contentld=207.Fatawa tertanggal 30/8/2005 M.
[21] Syekh Salman termasuk salah seorang murid Syekh Bin Baz, adapun Syekh Safar mengambil tafsir langsung dari Syekh Syekh Syinqty rahimahulloh
Langganan:
Postingan (Atom)



